Tuesday, September 12, 2006

Polly.. oh ..Polly

Minggu 10 September 2006, janjian pergi bareng temen-temen KMK UI.
Setelah sekian lama, akhirnya ketemu juga dengan temen-temen lama yang hampir kurang lebih 3 tahun ga kontak...(kecuali 1 temen pengacara 'kere'. baca : dhoho. red). Setelah makan siang bareng-bareng, akhirnya memutuskan untuk nonton berbagi suami di TIM dalam rangka closing Q film festival. Berhubung gretongan... semangat anak-anak sangat membara.

Film itu bagus ya... gue suka... gue suka... banget.
Ide ceritanya fresh, pemainnya total... meskipun ada beberapa nama baru yg lebih dikenal diluar dunia film. Dan yang paling bikin gue suka... cerita itu memang real ada didunia nyata. Ada perasaan sebel, marah, dan mengutuk semua perilaku orang yang terlibat poligami. Tapi ada perasaan mengerti, lucu melihat konflik-konflik yang digambarkan dalam film itu. Tapi apapun bentuk perasaan gue saat menonton itu, dan saat memiliki teman yang menjalani 'lakon poligami, deep dwon in my heart gue tetep menentang poligami.
Say No to POLYGAMY n POLYANDRY!!!

Apapun alasannya, poligami adalah sebuah pembenaran dan pembelaan diri terhadap ketidakmampuan manusia untuk mengontrol perasaan, emosi dan libidonya. Dan siapapun pelakunya... baik itu laki-laki yang berpoligami atau perempuan yang berpoliandri... tetap saja hal itu tidak baik untuk dilakukan. Tentu saja ini dilihat dari kacamata gue dan bukan orang lain.
Menurut gue, poligami adalah sebuah pola pemikiran "defense mechanism" baru yang tercipta dan diciptakan oleh pemikiran manusia sendiri. Kenapa gue bilang itu bagian dari "defense mechanism"?... Jawabannya adalah karena manusia tercipta dengan "multiple need" yang memaksa untuk dipenuhi. "multiple need" itu berbeda kadar dan wujudnya bagi masing-masing pribadi. Ada pribadi yang merasa cukup dengan menerima satu bentuk cinta dari pasangan, ada juga pribadi yang membutuhkan lebih dari satu bentuk cinta pasangan. Itulah kebutuhan yang lebih mengarah pada pemenuhan libido dasar yang banyak jumlahnya. Yang namanya nafsu dan keinginan itu banyak sekali dan cenderung tidak terkontrol. Lalu kemudian dengan kearifanNYA, Tuhan menciptakan sebuah 'alat' dalam diri manusia yang membuatnya berbeda dari hewan. 'alat' itu selanjutnya kita sebut dengan "Pikiran" "Mind". Dengan alat inilah manusia diajarkan untuk mampu menyaring dan memfilter 'multiple need'nya menjadi klasifikasi yang lebih kecil berdasarkan kepentingan dan urgenitas. Dengan adanya alat ini pula, kita dilatih untuk tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan kita. Dan tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan semata. (klo hidup cuma untuk memenuhi kebutuhan atau libido... itu namanya 'animal' --> animal instict.red)
Sebagai contoh, bila memang kita membutuhkan bentuk cinta dari pasangan, kita bisa mendapatkannya cukup dari seorang istri ataupun seorang suami. Seorang teman di kampus dulu pernah bilang "orang berpoligami itu sama dengan orang yg senang gonta-ganti cassing hp, isinya mah tetep sama cover nya aja yg beda." hahahahaha.... bener banget.

Contoh gampangnya gini nich... seorang pria melakukan poligami dengan alasan untuk menghindari zinah, loch... kenapa harus zinah kalo sudah punya istri? kebutuhan itu khan bisa dilakukan dengan istrinya itu, la wong onderdilnya sama koq... yang membedakan rasa itu karena persepsinya yg beda. Nah berarti intinya gimana kita bisa mengatur persepsi dan emosi kita sehingga pasangan kita (istri / suami) menjadi satu-satunya tempat untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan itu semua bisa dan dapat dipehuni oleh hanya seorang istri / suami, tinggal pola pikirnya aja yg dirubah.

Lagipula nich... apakah bila anda atau pun saya berpoligami... kewajiban dapat dipenuhi dengan adil? Yang namanya kewajiban itu tidak sekedar mencukupi kebutuhan materi raga dan fisik, yang lebih utama adalah memenuhi kebutuhan batin. Itu bukan hal yang mudah... ketika kita memiliki lebih dari satu pasangan, pastinya ada perasaan sakit hati dan iri diantara pasangan kita itu walaupun kita sudah berusaha se'adil' mungkin. Namanya manusia, pasti perasaan negatif akan ada. Dan ketika perasaan itu timbul dalam diri pasangan kita, berarti kita sudah mengabaikan salah satu kewajiban kita untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jangan cuma minta hak doank doank achh.... Nah liat deh... dimana letak positifnya poligami ya??? Alasan itulah yang membuat gue tidak mendukung sama sekali poligami.

Ini buah pemikiran dari sudut pandang gue sendiri, orang lain bebas untuk mempersepsikan dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi yang pasti, gue ga pernah memandang negatif pelaku monogami, yang gue pandang negatif adalah perilaku monogami-nya.

Ok guys... ciao

Saturday, September 09, 2006

... Pengakuan ...

Ini adalah sebuah pengakuan dari seseorang yang menyebut dirinya "sahabat."

Kalian bisa panggil gue "Vita". Itu nama yang gue dapet dari kecil. Bonyok dan kaka gue suka panggil gue "..vi", temen-temen sekolah dan kuliah panggil gue "devita", sebagian temen kantor panggil gue "bidu", keponakan panggil gue "apit", salah satu temen AV panggil gue "bibir", dan yang terakhir... cowo gue panggil gue "de".

Banyaknya nama panggilan gue, bukan berarti gue punya segudang nama samaran. Entahlah... mungkin mereka sayang ma gue, makanya mereka ngasih nama panggilan yang berbeda-beda. Tapi yang pasti, gue sayang sama mereka semua.

Dari dulu juga, gue sering dijadiin tempat curhat ma temen-temen gue. Gue juga ga pernah tau alasan mereka memilih gue. Mungkin gue pilihan yang mereka anggap baik... mungkin juga nggak... gue ga tau. Tapi perlukah gue tau alasan mereka, kenapa mereka mempercayakan gue untuk menyimpan rahasia dan perasaan pribadi mereka?... gue rasa ga perlu. Tooh... yang namanya percaya itukan feeling, rada susah dicari alasannya.
Padahal... gue bukan orang yang sabar, gue ga kalem, gue ga mengayomi, gue kalo ngomong apa adanya, gue ga suka bermanis-manis kalo kenyataanya ga manis, gue akan bilang nggak kalo memang realnya ga seperti yang oranglain harapkan. ITULAH GUE.... "Devita"
Gue juga ga pernah maksa orang lain untuk cerita ke gue. Apalagi masalah pribadi mereka... ya ampyun... bukan gue banget sich kalo sampe gitu.

Entah karena alasan apa juga, ada seorang sahabat yang selalu bercerita mengenai romantika percintaanya ke gue. Kebetulan sekali, pacarnya dia.. juga temen main gue. Kita bertiga cukup deket dan kenal satu sama lain. Gue ngikutin jalannya hubungan mereka...
Suatu saat, seorang sahabat itu datang ke gue dan bercerita panjang lebar... bercerita mengenai kehidupan percintaan mereka yang sudah ga sehat karena banyak sekali pertengkaran dan ketidakpercayaan. Wajar mungkin... karena masing-masing dari mereka sudah pernah saling menyakiti dan saling tidak setia.

Sebagai seorang teman, adalah tugas gue untuk membantu mereka. Dan sebisa mungkin gue berusaha memberikan masukan-masukan positif supaya mereka bisa bertahan. Tapi kondisinya gue liat semakin buruk.... Gue kehabisan akal untuk memberi masukan positif karena mereka berdua adalah temen-temen gue. Bukan hanya pihak cowo yang temen gue, tapi cewenya juga. Gue berpikir daripada mereka saling menyakiti terus dan terus tidak berkesudahan, gue menyarankan pada pihak cowo (karena kebetulan waktu itu yg tlp gue si cowo nya. red) untuk mengakhiri hubungan mereka. Gue pikir... dengan perpisahan, mereka bisa lebih introspeksi diri... mereka jadi bisa menyadari arti keberadaan masing-masing pihak, jadi mengerti perasaan mereka masing-masing, jadi tidak egois, dan jadi lebih bisa menghargai dan menyukuri kebersamaan mereka selama ini. Gue SANGAT BERHARAP mereka bisa begitu.

Tapi kenyaatannya berbeda, mereka tidak berubah.... mereka hanya berkutat dengan pikiran dan pendirian mereka masing-masing. Mereka masih tetap saling menyalahkan...
Jika memang salah satu dari mereka marah ke gue, karena gue menjadi penyebab perpisahan mereka... gue rela... iklas... pasrah... asalkan dari situ segalanya bisa menjadi lebih baik dan bukan semakin buruk.

NGERTI ga sich FREN...

Gue akan selalu jadi temen elo... saat elo berubah nanti menjadi lebih baik.

Miss Uu

9 September 2006

Hari ini gue punya schedule dateng kekantor cuma untuk interview driver (duuuhh... rada ga penting deh, secara yg lain libur. red) Aktivitas dihari sabtu minggu yang paling gue hindari.. (masuk dan kerja. red) tapi gue ga punya pilihan neek... drivernya boss kecil resign mendadak, dia minta penggantinya yg bagus dan ok. udah 6 orang driver gue interview... masih ga optimis nich.

Janji interview jam 9, gue baru sampe kantor jam 1/2 11... hehehe ngaret yang luar biasa. (bangun jam 9, maem dulu... trus baru jalan ke kantor). Kandidat drivernya dah pada misuh-misuh... (maap pak, namanya juga kesiangan habis dugem hehehehe...). Dari rumah sengaja naik taxi biar cepet. Ga tau kenapa, tapi feeling so good ma supir taxinya. Penampilan oke lah, trus pengalaman kayannya banyak... sabar lagi, dengan rada cuek plus ga tau malu, gue tawarin aja tu supir untuk interview ma gue hari ini juga. Jadilah sesudahnya nurunin gue diloby kantor, dia parkir taxinya trus ngikutin gue ke kantor. Actually, gue punya feeling good ke supir taxi itu, tapi sometimes boss punya penilaian yang out of my mind. Ya terserah yang mau pake aja deh, yang penting kerjaan gue selesai untuk sabtu ini.

Habis interview, gue ada janji nonton pameran komputer tapi yang berniat nemenin ga bisa dihubungi. Gue berinisiatif stay in the silent office sampe dia ngabarin gue. OB kantor yang biasa nemenin gue lembur dihari sabtu lagi sakit, jadi ga enak liat dia terkantuk-kantuk dan lemes, terpaksa gue suruh dia pulang meninggalkan gue sendirian dikantor... huaaaaa...hiks..hiks..hiks.. (rada syereem sich. red). I M ALONE....

Iseng telp temen "G" jaman waktu skripsi dulu... eh dia dah kerja di makasar. Waduh... sumpah gue kangen banget ma dia. Lama ga ketemu ternyata kabar dia baik-baik aja n dah berkarir loch boo... sutralah jadi rang makasar saja, disana enak too. Dah seminggu ini gue nonton Q film festival dan bedah bukunya... ga tau kenapa gue merasa muda dan bergairah lagi. GIELA.... dah lama banget deh kayanya gue ga bener-bener menjadi "manusia". Bener kata temen gue, keseharian dan rutinitas yang kita jalanin setiap hari, tanpa kita sadari dah mengubah kita jadi robot dan kehilangan 'human sense'. Makanya begitu temen gue ngasih kabar ada festival film (even im not part of their ingroup. red) gue jabanin untuk dateng. Dan ternyata bener... gue tuh ngerasa seger lagi, kaya jaman-jaman kuliah dulu gitu deh. (Wuah syeneng buangeet...)

Buat temen-temen yang lagi suntuk ma love and work live nya... mending coba sesuatu yang berbeda deh... nanti pasti enjoy... hehehe...

Ciao

Thursday, July 20, 2006

......

Kemarin, selat sunda dan sekitarnya dilanda gempa 6,2 skala ritcher. (begitu kata orang BMG.red)

Yang jelas, fakta lapangan... kemarin gue dan temen-temen gue harus turun dengan terbirit-birit dari lantai 8 turun ke bawah untuk menjauh dari gedung karena goncangan yang dirasakan dilantai atas cukup bikin kita semua panik. Yang lebih kasian lagi, temen gue yang lagi hamil gede...kasian dia, ikut lari walaupun harus kehabisan napas dan kram kaki. (bertahan dian!!.red)

Kalo dipikir-pikir banyak kejadian alam yang mengingatkan dan menampar muka kita untuk kembali duduk bersimpuh dalam doa, menyadari ketidakberdayaan dan kelemahan kita sebagai manusia. Wedeh...mulai syusah nich... (hal mudah yg lebih mudah daripada ikut olimpiade fisika tapi jarang gue lakukan, heheheh.. please forgive me Lord. red)

Ya udah deh...masalah believe & faith itu khan relative untuk tiap orang. Semoga tiap orang dapat mengambil inti sari dari setiap teguran-teguran alam terhadap manusia. Semoga karena menyadari kelemahan, kita dikuatkan.

ciao prens...

Tuesday, July 18, 2006

Seksi Acara...oh seksi acara

Jumat malem, hp ga berhenti-henti berdering.
Ada masalah dikantor... (masalah yg dibuat karena kesalahan keputusan. red)
Ga cuma itu, anak-anak mudika juga tlp terus kaya orang gila. Nanya kepastian ikut rekoleksi, soalnya besoknya harus dah meluncur ke puncak sampe hari minggu. Sebenernya anak-anak itu ga usah nanyalah... lawong jelas gue seksi acaranya, masak iya ga dateng... dimana tanggung jawabnya coba. (jadi bikin makin ribet aja malam itu. red)

Prediksinya waktu itu, kalo masalah kantor ga selesai malam itu berarti besok pagi-pagi buta ngeberesin masalah kantor...trus nyusul sendiri ke puncak. Tapi thanks God, masalah kantor selesai dan bisa ikut pergi bareng anak-anak pagi jam 7.

Sebenernya basi banget untuk orang seumuran gue masih involve dengan teenage-teenage itu sekedar untuk jadi panitia rekoleks. Tapi kalo inget gimana mereka waktu itu minta-minta banget untuk gue bantuin mereka... fiuh... ga tega juga, lagian bantuan itu bisa gue berikan koq. (masak iya ga mau memberikan bantuan, padahal kita mampu membantu. Ada khan orang yg dimintain bantuan kecil aja susahnya minta ampiyun...gimana diminta sumbangan sekian juta dolar untuk kemanusian... dijamin ga bakal ngasih deh.red)
Boo... ternyata acaranya cukup sukses, even tetep aja ada oknum-oknum sok beken dan senior yg menggeser schedule acara seenaknya sendiri. At least participants have a great time. Kita kerja untuk kebahagiaan orang lain koq, bukan untuk self glory.

Tapi point pentingnya adalah... even saat itu gue masih sakit hati atas peristiwa di hari kamis, ada great value of life yg gue dapet dari acara itu. Ternyata gue masih bisa bisa bikin orang lain senyum, gembira, dan tertawa. Ternyata masih banyak orang yg care dan sayang ma gue, ternyata i'm not that stupid enough to organize great activity. Semua bilang bahwa games-games dan acara gue sama sekali ga ngeboringin... dan uniqe, bikin mereka ga akan mudah lupa sama acara kemaren.

Thanks Guys...
Special thank you untuk orang-orang yg bersedia berjuang dan berkorban bersama gue.
Love u all...

Dear Daddy...

Dear daddy in heaven…

Dad, today (Thursday,13 July 2006) God give me another gift about life.
When you were still with us, you said “Do your best!! And lets God do the rest.”. I still believe in that word Dad. God will do the rest and finished all for us… as long as that is the right thing to do.
U know Dad… I’ve been try to do that in my life. I studied hard, I work seriously, I m think positively. I’ve been try to do all that good things for 26 years.
Dear Daddy, sometimes all that things is not enough for others people. Sometimes others just see my effort in different point of view. Sometimes others think that my thought is not good enough to be accept. But….
In my life… I don’t want to be famous… I just want to be my self.
In my life… I never want to hurt people… exceptlly for defence my self.
In my life… I always try to make others happy because of having me near them.
That’s all I want in my short life.
If I have to hurt someone else to defend my self, is it wrong Dad?
Tell me Dad… because its been so painfull.
It is painfull when someone mad at you just because try to be your self.
It is painfull when someone say that your not good enough for him.
It is painfull when someone say you are “morron” just because you don’t agree with their opinion.
It is painfull when someone see you only like a small bugs… you are nothing for them.
Dad… I remember what you are saying before you died…
“Your Happiness is belong to your own, its not belongs to your family, your friends or your spouse. So reach your happiness!”
I am Dad… I am happy will all my strenght and weakness. I am happy just being me… I will looking for my happines Dad… because I am deserve to be happy.
Thanks Dad… for teaching me a lots about life, for loving me until the end of your age, for showing me the beautiful life.
I love you Dad… love you so much.
Someday, I will see you in heaven and give you my big hug.

Your doughter…

Monday, June 19, 2006

Nostalgila

18 Juni 2006 kemaren, temen kampus... sekaligus temen kantor lama merid.
Berangkat pagi-pagi banget demi janji menghadiri akad nikahnya di Taman Mini jam 8 pagi boow. Dari rumah jemput Listi di blok M, trus lewat pancoran narik chiqa. Ditaman mini kita ketemu ma Anita dan Elly. Jadi reunian masa-masa kerja di FNS Cibitung.

Dulu tuh waktu masih sama-sama kerja di FNS, kita sering banget hang out bareng... Ga maksud sich, tapi kayannya akhirnya kebentuk peer group deh. Kebetulan aja satu peer anak2nya ga ada yg mengecewakan secara fisik. (Baca: cantik dan manis-manis gethoo loch. red) Ya ada jeleknya juga sich ngepeer gitu, jadi dianggap ekslusif dan walhasil ada beberapa pihak yg like and dislike..
Trus lambat laun, berguguran satu-satu (Baca: pindah kerja.red) jadi tinggal 2 orang yang masih bertengger disitu. Sepi... kasian juga...

Habis akad, langsung ke gedung resepsi ikutin upacara adatnya dulu. Ribet juga ya...merid. Hmn... Uty, elo cantik banget deh... cucok banget jadi penganten ^-^.

Disana gue juga ketemu temen-temen kampus, dah lama ga liat mereka. Ada yg tambah gemuk kaya gue, ada yg melangsing... ada yg dah hamil, ada yg lagi nunggu kehamilan... wuidih... pokoknya rame buanget. Seneng juga ketemu mereka... tapi semua dah ga sama ya. Ga bisa disamain kaya dulu lagi. Mereka terlihat dah dewasa banget, koq gue merasa gue yg masih kaya anak-anak... hmn... live

Pulang dari sana kita berlima (Listi, Eli, Chiqa, anita n gue) ngelanjutin ngerumput sore-sore di blok M. Bakwan malang karapitan dan es telernya cukup bikin kita melek... As usuall, kalo ada lebih dari 1 orang cewe berkumpul maka topik yg hangat untuk diangkat adalah tentang siapa lagi... kalo bukan... COWO... mahluk dari planet mars yang kadang dirindukan kedatangannya kadang di hujat kehadirannya... hahahahahaha...

Intinya... ternyata kita sama-sama merindukan figur lelaki yg punya tujuan hidup jelas dan mau kerja keras untuk mencapai tujuan itu. Ga perlu ganteng, ga perlu kaya, ga perlu sesuai dengan kriteria imajinasi kita tentang pasangan ideal. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri yang berkehendak dan mau bekerja keras. Kalo pun ternyata dia ganteng... ya itu jakpot lach buat kita....

Wednesday, June 14, 2006

I Believe My Heart

(Lirik lagu bule... )

Whenever i see your face
the world dissappears
All in a single glance of... revealing

You smile and i feel as though
ive known you for years
How do i know to trust what... im feeling

I believe my heart...
what else can i do...
When every part of every thought
leads me straight to you...
I believe my heart...
theres no other choice...
For now whenever my heart speaks
i can only hear your voice...

A lifetime before we met
has faded away
How did i live a moment... without you

You dont have to speak at all
i know what you'd say
And i know every secret... about you

I believe my heart...
it believes in you...
Its telling me that what i see
is completely true...
I believe my heart...
how can it be wrong...
It says that what i feel for you
i will feel my whole life long...

I believe my heart
it believes in you...
Its telling me that what i see
is completely true...
And with all my soul...
i believe my heart...
The portrait that it paints of you
is a perfect work... of art

note : its hard to believe my heart totally 100 %... hehehehe

... a decission... (part 3)

13 Juni 2006, 11.00 malem
(abis nonton world cup, Korsel ~ Togo)

Today… the day after our (baca : gue and feli. red) meeting with feli’s parents. Feli jemput gue dikantor, selama perjalanan dia cerita banyak hal… include private conversation antara dia dan mamanya dikamarnya kemarin malam. (After i went home from his house... Cuma berdua jek… red).

”Semua yang dibilang mama bener De, bagaimana seandainya itu terjadi?” (ya emang bener, tapi bukan berarti kita mundur disaat kita mulai maju khan...? red)
Hon... kenapa malam ini kamu jadi terlihat bimbang?
Sebelumnya... De adalah pihak yang selalu bimbang dalam memutuskan the ”W” phenomena. dan Fe selalu penuh keyakinan.

Sebenernya siang tadi, setelah pembicaran yang cukup dalam dan menyenangkan dengan teman-teman , De sudah memantapkan hati untuk mengambil sebuah keputusan dari alternative-alternative yang pernah Fe utarakan. Keputusan yang baik bagi semua pihak walaupun itu berarti kita harus berpisah untuk sementara waktu. Tapi kenapa sekarang Fe yang ragu...? (dari dulu kaya gini terus... maju... mundur... maju... mundur lagi... CAPE. red)

Kita flash back deh ...
20 November 1997, kita sepakat untuk membuat komitmen (teenage commitment. red) jangka pendek yang tidak pernah kita duga akan bertahan sampai hari ini.
Perbedaan nyata yang terbentang di antara kita, suku bangsa dan budaya, menjadi suatu tantangan tersendiri yang harus kita hadapi dan taklukan.
Masih terbayang jelas saat-saat dimana miskomunikasi terjadi antara dua keluarga.
Saat-saat dengan terpaksa kita harus backstreet... (what a tired days... red).
Saat-saat dimana kita harus jadi ‘jaim’ di depan semua keluarga dan membangun mental tembok supaya kuat menghadapi berbagai hujatan dan ketidaksukaan... (it is the time when i can't be my self. red)
Saat-saat dimana kita berdua berjuang meraih prestasi demi pegakuan dari keluarga.
Saat-saat dimana pada akhirnya kita bisa berhubungan dan berkomunikasi hangat dengan semua keluarga. (saat-saat yang sungguh kami nantikan sejak lama, tapi baru tercapai kurang lebih dua tahun terakhir ini. red).
Hampir sembilan tahun sudah kita berjuang melalui hari-hari berat penuh tantangan itu. Dan disaat sekarang kita bisa merasakan sedikit saja kelegaan... kita dihadapkan pada keputusan dengan altenatif pilihan yang sulit... sulit untuk diputuskan. (Haruskah De menunggu lebih lama lagi? Atau... Haruskah untuk sekali lagi De tidak mendapat kepastian tentang kelanjutan hubungan kita?. red)

Sebenarnya, im not the decision maker in this situation.
Dalam budaya timur, laki-laki lebih berperan dalam pengambilan keputusan. Kenapa jadi De yang dibuat bingung dan menunggu. Seandainya memang ternyata harus menunggu 4 tahun lagi… ga janji deh... (mungkin bisa... tapi mungkin juga nggak. red) Kita lihat saja nanti...

note: nulis malem-malem sambil dengerin "i believe my heart"

... a decission... (part 2)

Hari ini...
ada banyak input positif dari temen-temen yang cukup concern dengan keadaan gue. Tentang keputusan apa yang harus gue ambil tentang kondisi hubungan gue. (Thanks guys… for all ur support, u give me much inspiration today. red)

Isi kepala banyak orang itu memang lebih baik daripada cuma satu orang. Dengan kondisi yang gue hadapi sekarang ini, kurang lebih 2 temen gue memberi masukan yang positif. (Uty, mbak Eli… thanks a lot. red). We can’t never run away from being older and mature, enak ga enak… asik ga asik… gue emang harus mengambil keputusan terhadap kondisi gue.

At least sekarang gue sedikit yakin deh mengenai keputusan yang harus gue ambil. Ok hun.. i m ready to start the new journey with u... no matter what the problem in front of us.

(sikap positif gue di hari selasa, 13 Juni 2006, pagi hari... sebelum ketemu Feli. red)

Monday, June 12, 2006

...a decission...

Monday, 12 June 2006, 10.40 am. Im surprised by an sms...
Not ordinary sms as usually, it cames from my boy friend's father. The content really-really make me shock... I think i don't have to rewrite the sms, but the point is... he give me a suggest about my marriage / wedding condition, my post marriage condition and asking my decision.

Oh my God.. what a surprising opening conversation in sms..

Sepertinya lebih enak kalo mengawali pembicaran tentang "W" fenomena dengan pertanyaan mengenai kondisi hubungan gue sekarang dengan cowo gue (yang notabene adalah anaknya. red). Or at least, ask my willingness... mo dibawa kemana hubungan kami ini. Nah baru asik tuh kebelakangnya membahas soal "W" fenomena. (gile cing... langsung ditembak... DORR... pucet deh langsung... asli... hehehehe. red)

Tapi gue yakin bahwa sms itu datang dengan kesadaran penuh seseorang yang berpikir positif tentang hubungan gue dan cowo gue. Dan mungkin karena positifnya, dia yakin bahwa kami anak-anaknya dah cucok satu sama lain.... (hmn... huud... huud... positif dad, nowdays there are only several person who think like this. red)

Tapi kalo dipersepsikan sesaat dari isi smsnya, it seems like the decission about "W" phenomena is totaly in my hand. (Is it truth that all the decission is depend on me? red)

Kalo mikirin soal umur...
emang udah seharusnya sich melangkah ke level selanjutnya. Ibarat game, ga mungkin khan bertahun-tahun stay di level yang sama.. kalo ada orang yang sampe begitu tuh... ada dua option... either tu orang bloon banget sampe ga bisa maju ke next level... or... tu orang dah comfort di level itu karena menguasai games dengan sangat baik and ga mau nerima tantangan yg ada di level selanjutnya. (tul ga gamers-gamers sejati?. red)

Kalo mikirin kondisi...
nah ini nich yang bikin jadi rada ribet. Ibaratnya bunga... kami (baca: gue dan cowo gue. red) mekar diwaktu yang tidak bersamaan. Diusia gue yang sekarang, boleh dibilang... im in process to reach the top, sedangkan cowo gue... he is in the begining to start the process. Perkembangan yang ga seirama ini bener-bener membuat kita kewalahan untuk menyamakan langkah. Berbagai altenatif solusi yang masuk akal yang dirasa mampu untuk menyamakan langkah ini sudah diupayakan... sedikit membantu... ada irama-irama yang bisa sejalan... tapi banyak pula yang tidak. (its ok i think... differences make us rich. red)

Tapi kemudian waktu memunculkan keraguan dari ketidaksamaan kondisi ini...
Beranikah kami saling memberikan effort lebih supaya langkah kami seirama?
Beranikah kami untuk saling mengurangi kesenangan dan kebahagian masing-masing demi pasangan?
Beranikah kami untuk tetap saling menghargai dan menyayangi walaupun langkah kami pincang dan gontai?

Kenapa gue ga berani yach... ga berani sakit lagi... ga berani terluka lagi... ga berani berkorban... untuk sesuatu yang memang layak untuk gue perjuangkan.

We've been together for almost 9 (nine) years... yang penuh dengan tidak hanya sukacita, tapi juga beribu dukacita... come on, thats not a short time. Kita dah pernah lalui banyak kesulitan khan... harusnya gue ga takut untuk menerima kesulitan-kesulitan lainnya... tapi hari ini... saat ini... gue merasa sangat lelah untuk berjuang lagi. Habis sudah tenaga dan semangat ini untuk mempertahankan apa yang sudah kita bangun... maafkan gue... (please understand thats its really-really a hard time for me. red)

Note : do i still have to believe my heart as u told me honey?

Thursday, April 13, 2006

SOPIR

"Kita tidak pernah mempertanyakan kemana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita."

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa , 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Ibunya

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah.
"Ayah tahu tempatnya?" tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.
"Tahu, jangan kuatir ..." jawab Ayah sembari tersenyum.
"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?"
"Tahu, jangan juatir ..."
"Benar, tidak kesasar Ayah?"
"Benar, jangan kuatir ..." jawab Ayah tetap dengan sabar.
"Nanti kalau Asa haus, bagaimana?"
"Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."
"Terus kalau lapar?"
"Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ..."
"Emang ayah tahu tempat restorannya?"
"Tahu, sayang ..."
"Emang ayah bawa cukup uang?"
"Cukup, sayang ..."
"Kalau Asa pengin ke kamar kecil?"
"Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."
"Emang di musium ada toiletnya?"
"Ada, jangan kuatir ..."
"Ayah bawa tissue juga?"
"Bawa, jangan kuatir ..." kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.
"Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?"
"Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ..."
Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi.
Giliran sang Ayah yang bingung, "Kenapa Asa diam, sayang?"
"Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

Kita semua seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua. Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

Selamat pagi dan selamat bekerja l


© 2006, Setya Rahadi, http://www.lightbreakfast.com.

Karena Cinta...

Kemaren malem, acara dadakan, ketemu temen-temen dari kantor lama di Tebet Square...
Dulu kita berlima itu sering banget pergi bareng, mulai dari keliling Jakarta sampe bermalam ke Bogor. Duh dah lama banget tuh... tapi paling sering ngumpul di Blok M atau creambath bareng di Tebet... (walaupun kadang gue yg ketiban sial, potongan rambut aneh dan creambath ga enak. red) Hihihihihihi tanen deh ma event-event itu.

Setelah gue pergi (pindah kantor kamsudnya.red) jadi jarang kita bisa ketemuan...
Pasti ada aja deh yg bikin acaranya ga jadi, makanya lebih enak kalo dadakan. Trus terakhir gue denger kabar, keempat orang temen gue yg masih di company lama jadi jarang kumpul or ngobrol-ngobrol bahkan karena kesibukan masing-masing mereka seperti menjauh satu sama lain. Sedih dengernya... tapi kemaren huah asik banget... ketawa-ketawa ga jelas lagi... ngomong jorok...nyela...ngayal...nyolot bareng... huah pokoknya top deh.

Tuh khan pren... karena cinta kita semua bisa ngumpul lagi untuk deket lagi dan untuk curhat lagi... so kapan kita buka kamar neeh.... ;)

Mizz U all...

Wednesday, April 12, 2006

SELEPAS KAU PERGI…

Tak terasa 1000 hari telah kau pergi tinggalkan kami dengan sejuta kenangan manis. Hidup… terlalu singkat untukmu… ku tau masih banyak impian dan harapan yang ingin kau wujudkan dan ingin kausaksikan.

Ku ingat saat-saat akhir kepergiaanmu…
Bagaikan mimpi, kejadian tragis itu menjadi sebuah tanda akhir kehidupanmu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kau pergi tinggalkan kami dengan cara yang demikian. Kami anak2mu telah Tuhan buat untuk melihat kebesaran kuasa NYA atas manusia. Sungguh, saat semua itu terjadi dihadapan kami anaknya, rasanya kami tak punya kekuatan dan kendali untuk meminta kebahagiaan kami. Saat itu…

Untuk pertama kalinya kulihat tubuh ayahku yang kekar dan besar terbaring dengan kelemahan dan ketidak berdayaannya sebagai manusia. Tubuh yang selama ini selalu ayah gunakan untuk menopang kehidupan kami, tubuh yang selama ini selalu menjaga dan melindungi kami, tubuh yang selama ini selalu ayah gunakan sebagai contoh bagi kami agar meneledani ajaran2 Tuhan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat kondisi ayah yang seperti itu. Saat pertama kali ibu menghubungi ku lewat ponsel dan memberi tahu bahwa ayah mendapat kecelakaan, ku pikir itu hanya sebuah kecelakaan kecil seperti kecelakaan yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Ternyata ibu sebisa mungkin tidak membuatku kawatir dan shock dikantor walaupun sebenarnya dia sangat2 sedih dan shock. Keadaan ayah luar biasa parahnya, jahitan lebar membentang dari ujung kiri ke ujung kanan kepala ayahku. Tingkat kesadarannya level 4 kata dokter, keadaan yang amat buruk. Saat itu dokter tidak berani bicara apa-apa, tapi kami tetap berharap banyak dalam kebisuan dokter-dokter itu. Upaya2 kami lakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi ayah kami sebenernya saat itu, dan berbagai cara kami lakukan untuk bisa memberikan perawatan yang terbaik baginya saat itu. Tapi kami sungguh kecil dan tidak kuasa…. Tak banyak hal yang bisa kami lakukan untuk menolong ayah kami, semua jalan terasa buntu saat itu. Bila mengingat hal itu, kadang kami masih merasa bersalah. Maafkan kami ayah, karena tidak bisa memberikan yang terbaik bagimu saat itu terjadi.

Saat akhirnya kau pergi, itu adalah saat yang sangat menyedihkan untukku. Selama ini, kau adalah orang yang paling dekat denganku ayah. Orang yang paling sering kujadikan teman berdiskusi, orang yang paling mengerti aku, orang yang paling bisa kuteladani. Caramu hidup… caramu berrelasi… caramu menjadi besar… dan caramu memotivasi… selalu menjadi inspirasiku dalam hidup. Banyak hal yang ingin aku pelajari dari engkau dalam memasuki dunia kerja. Saat itu aku berpikir bahwa dalam hari-hari kedepan kita akan lebih banyak bisa berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam dunia kerja. Tapi toh hidup adalah hidup… harus dijalani sesuai dengan kontraknya. Saat kontrak itu berakhir, apakah kita punya hak untuk memperpanjangnya?... tidak.

Dengan seluruh kesadaranku aku menyadari hal itu, tapi mengapa hidupku seperti ini sekarang? Ku hidup hanya untuk masa kini… tidak perduli dengan masa depan… hidup hanya untuk kesenangan saat ini… itu bukan hidup yang diteladani ayahku. Ayahku pasti tidak ingin aku hidup dengan cara-cara seperti itu. Tapi mengapa masih tetap aku lakukan hal itu. Dad… don’t be upset, I’ll try to live in a better way and always remember the way u live coz u had Jesust inside u. I love u dad.

Huh....Binun

Bingung ma kerjaan...
Ga tau mo mulai darimana...
Gimana ya enaknya?
Masak ga menghasilkan apa-apa...

demotivasi parah

Sorry for loving U...

Nothing special today...
Kecuali karena hari ini gue berniat buat blog ini untuk seorang teman.

Dari kemaren ada yg aneh...
Seorang teman, ga berhasil dihubungi...ym ga pernah di bales-bales.
Mungkin dia marah, kecewa atau tersinggung... ga jelas (mungkin marah kali ya. red)
Siapa juga yg ga marah kalo terlalu di pussy, semua orang bakal marah. Tiap orang khan punya batas kesabaran masing-masing. Udah long weekendnya suck... eh ketemu temen yg kerjannya mojok-mojokin terus. (kalo gue mungkin dah ngamuk dengan berceloteh langsung ke orangnya, ga di tutup-tutupin lagi. red)
Tapi temen gue ini emang hebat koq...sabar banget, baek, tegar... top abis lach. (mudah-mudahan ga pura-pura tegar ya. red) Saking sabar dan baeknya, kadang temen-temennya jadi semena-mena ke dia. Tapi sumpah deh... qta (me & her others friends) ga bermaksud jahat dengan mojok-mojokin dia. Qta pikir, kalo qta buat taruhan itu... kali aja dia jadi lebih bersemangat untuk "keep trying" tapi ternyata kita salah prediksi... (hihihihi... analisa prematur dari 2 sahabat bodoh. red)

So... just want to say... sorry pren if we hurt you...