Tuesday, September 12, 2006

Polly.. oh ..Polly

Minggu 10 September 2006, janjian pergi bareng temen-temen KMK UI.
Setelah sekian lama, akhirnya ketemu juga dengan temen-temen lama yang hampir kurang lebih 3 tahun ga kontak...(kecuali 1 temen pengacara 'kere'. baca : dhoho. red). Setelah makan siang bareng-bareng, akhirnya memutuskan untuk nonton berbagi suami di TIM dalam rangka closing Q film festival. Berhubung gretongan... semangat anak-anak sangat membara.

Film itu bagus ya... gue suka... gue suka... banget.
Ide ceritanya fresh, pemainnya total... meskipun ada beberapa nama baru yg lebih dikenal diluar dunia film. Dan yang paling bikin gue suka... cerita itu memang real ada didunia nyata. Ada perasaan sebel, marah, dan mengutuk semua perilaku orang yang terlibat poligami. Tapi ada perasaan mengerti, lucu melihat konflik-konflik yang digambarkan dalam film itu. Tapi apapun bentuk perasaan gue saat menonton itu, dan saat memiliki teman yang menjalani 'lakon poligami, deep dwon in my heart gue tetep menentang poligami.
Say No to POLYGAMY n POLYANDRY!!!

Apapun alasannya, poligami adalah sebuah pembenaran dan pembelaan diri terhadap ketidakmampuan manusia untuk mengontrol perasaan, emosi dan libidonya. Dan siapapun pelakunya... baik itu laki-laki yang berpoligami atau perempuan yang berpoliandri... tetap saja hal itu tidak baik untuk dilakukan. Tentu saja ini dilihat dari kacamata gue dan bukan orang lain.
Menurut gue, poligami adalah sebuah pola pemikiran "defense mechanism" baru yang tercipta dan diciptakan oleh pemikiran manusia sendiri. Kenapa gue bilang itu bagian dari "defense mechanism"?... Jawabannya adalah karena manusia tercipta dengan "multiple need" yang memaksa untuk dipenuhi. "multiple need" itu berbeda kadar dan wujudnya bagi masing-masing pribadi. Ada pribadi yang merasa cukup dengan menerima satu bentuk cinta dari pasangan, ada juga pribadi yang membutuhkan lebih dari satu bentuk cinta pasangan. Itulah kebutuhan yang lebih mengarah pada pemenuhan libido dasar yang banyak jumlahnya. Yang namanya nafsu dan keinginan itu banyak sekali dan cenderung tidak terkontrol. Lalu kemudian dengan kearifanNYA, Tuhan menciptakan sebuah 'alat' dalam diri manusia yang membuatnya berbeda dari hewan. 'alat' itu selanjutnya kita sebut dengan "Pikiran" "Mind". Dengan alat inilah manusia diajarkan untuk mampu menyaring dan memfilter 'multiple need'nya menjadi klasifikasi yang lebih kecil berdasarkan kepentingan dan urgenitas. Dengan adanya alat ini pula, kita dilatih untuk tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan kita. Dan tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan semata. (klo hidup cuma untuk memenuhi kebutuhan atau libido... itu namanya 'animal' --> animal instict.red)
Sebagai contoh, bila memang kita membutuhkan bentuk cinta dari pasangan, kita bisa mendapatkannya cukup dari seorang istri ataupun seorang suami. Seorang teman di kampus dulu pernah bilang "orang berpoligami itu sama dengan orang yg senang gonta-ganti cassing hp, isinya mah tetep sama cover nya aja yg beda." hahahahaha.... bener banget.

Contoh gampangnya gini nich... seorang pria melakukan poligami dengan alasan untuk menghindari zinah, loch... kenapa harus zinah kalo sudah punya istri? kebutuhan itu khan bisa dilakukan dengan istrinya itu, la wong onderdilnya sama koq... yang membedakan rasa itu karena persepsinya yg beda. Nah berarti intinya gimana kita bisa mengatur persepsi dan emosi kita sehingga pasangan kita (istri / suami) menjadi satu-satunya tempat untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan itu semua bisa dan dapat dipehuni oleh hanya seorang istri / suami, tinggal pola pikirnya aja yg dirubah.

Lagipula nich... apakah bila anda atau pun saya berpoligami... kewajiban dapat dipenuhi dengan adil? Yang namanya kewajiban itu tidak sekedar mencukupi kebutuhan materi raga dan fisik, yang lebih utama adalah memenuhi kebutuhan batin. Itu bukan hal yang mudah... ketika kita memiliki lebih dari satu pasangan, pastinya ada perasaan sakit hati dan iri diantara pasangan kita itu walaupun kita sudah berusaha se'adil' mungkin. Namanya manusia, pasti perasaan negatif akan ada. Dan ketika perasaan itu timbul dalam diri pasangan kita, berarti kita sudah mengabaikan salah satu kewajiban kita untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jangan cuma minta hak doank doank achh.... Nah liat deh... dimana letak positifnya poligami ya??? Alasan itulah yang membuat gue tidak mendukung sama sekali poligami.

Ini buah pemikiran dari sudut pandang gue sendiri, orang lain bebas untuk mempersepsikan dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi yang pasti, gue ga pernah memandang negatif pelaku monogami, yang gue pandang negatif adalah perilaku monogami-nya.

Ok guys... ciao

Saturday, September 09, 2006

... Pengakuan ...

Ini adalah sebuah pengakuan dari seseorang yang menyebut dirinya "sahabat."

Kalian bisa panggil gue "Vita". Itu nama yang gue dapet dari kecil. Bonyok dan kaka gue suka panggil gue "..vi", temen-temen sekolah dan kuliah panggil gue "devita", sebagian temen kantor panggil gue "bidu", keponakan panggil gue "apit", salah satu temen AV panggil gue "bibir", dan yang terakhir... cowo gue panggil gue "de".

Banyaknya nama panggilan gue, bukan berarti gue punya segudang nama samaran. Entahlah... mungkin mereka sayang ma gue, makanya mereka ngasih nama panggilan yang berbeda-beda. Tapi yang pasti, gue sayang sama mereka semua.

Dari dulu juga, gue sering dijadiin tempat curhat ma temen-temen gue. Gue juga ga pernah tau alasan mereka memilih gue. Mungkin gue pilihan yang mereka anggap baik... mungkin juga nggak... gue ga tau. Tapi perlukah gue tau alasan mereka, kenapa mereka mempercayakan gue untuk menyimpan rahasia dan perasaan pribadi mereka?... gue rasa ga perlu. Tooh... yang namanya percaya itukan feeling, rada susah dicari alasannya.
Padahal... gue bukan orang yang sabar, gue ga kalem, gue ga mengayomi, gue kalo ngomong apa adanya, gue ga suka bermanis-manis kalo kenyataanya ga manis, gue akan bilang nggak kalo memang realnya ga seperti yang oranglain harapkan. ITULAH GUE.... "Devita"
Gue juga ga pernah maksa orang lain untuk cerita ke gue. Apalagi masalah pribadi mereka... ya ampyun... bukan gue banget sich kalo sampe gitu.

Entah karena alasan apa juga, ada seorang sahabat yang selalu bercerita mengenai romantika percintaanya ke gue. Kebetulan sekali, pacarnya dia.. juga temen main gue. Kita bertiga cukup deket dan kenal satu sama lain. Gue ngikutin jalannya hubungan mereka...
Suatu saat, seorang sahabat itu datang ke gue dan bercerita panjang lebar... bercerita mengenai kehidupan percintaan mereka yang sudah ga sehat karena banyak sekali pertengkaran dan ketidakpercayaan. Wajar mungkin... karena masing-masing dari mereka sudah pernah saling menyakiti dan saling tidak setia.

Sebagai seorang teman, adalah tugas gue untuk membantu mereka. Dan sebisa mungkin gue berusaha memberikan masukan-masukan positif supaya mereka bisa bertahan. Tapi kondisinya gue liat semakin buruk.... Gue kehabisan akal untuk memberi masukan positif karena mereka berdua adalah temen-temen gue. Bukan hanya pihak cowo yang temen gue, tapi cewenya juga. Gue berpikir daripada mereka saling menyakiti terus dan terus tidak berkesudahan, gue menyarankan pada pihak cowo (karena kebetulan waktu itu yg tlp gue si cowo nya. red) untuk mengakhiri hubungan mereka. Gue pikir... dengan perpisahan, mereka bisa lebih introspeksi diri... mereka jadi bisa menyadari arti keberadaan masing-masing pihak, jadi mengerti perasaan mereka masing-masing, jadi tidak egois, dan jadi lebih bisa menghargai dan menyukuri kebersamaan mereka selama ini. Gue SANGAT BERHARAP mereka bisa begitu.

Tapi kenyaatannya berbeda, mereka tidak berubah.... mereka hanya berkutat dengan pikiran dan pendirian mereka masing-masing. Mereka masih tetap saling menyalahkan...
Jika memang salah satu dari mereka marah ke gue, karena gue menjadi penyebab perpisahan mereka... gue rela... iklas... pasrah... asalkan dari situ segalanya bisa menjadi lebih baik dan bukan semakin buruk.

NGERTI ga sich FREN...

Gue akan selalu jadi temen elo... saat elo berubah nanti menjadi lebih baik.

Miss Uu

9 September 2006

Hari ini gue punya schedule dateng kekantor cuma untuk interview driver (duuuhh... rada ga penting deh, secara yg lain libur. red) Aktivitas dihari sabtu minggu yang paling gue hindari.. (masuk dan kerja. red) tapi gue ga punya pilihan neek... drivernya boss kecil resign mendadak, dia minta penggantinya yg bagus dan ok. udah 6 orang driver gue interview... masih ga optimis nich.

Janji interview jam 9, gue baru sampe kantor jam 1/2 11... hehehe ngaret yang luar biasa. (bangun jam 9, maem dulu... trus baru jalan ke kantor). Kandidat drivernya dah pada misuh-misuh... (maap pak, namanya juga kesiangan habis dugem hehehehe...). Dari rumah sengaja naik taxi biar cepet. Ga tau kenapa, tapi feeling so good ma supir taxinya. Penampilan oke lah, trus pengalaman kayannya banyak... sabar lagi, dengan rada cuek plus ga tau malu, gue tawarin aja tu supir untuk interview ma gue hari ini juga. Jadilah sesudahnya nurunin gue diloby kantor, dia parkir taxinya trus ngikutin gue ke kantor. Actually, gue punya feeling good ke supir taxi itu, tapi sometimes boss punya penilaian yang out of my mind. Ya terserah yang mau pake aja deh, yang penting kerjaan gue selesai untuk sabtu ini.

Habis interview, gue ada janji nonton pameran komputer tapi yang berniat nemenin ga bisa dihubungi. Gue berinisiatif stay in the silent office sampe dia ngabarin gue. OB kantor yang biasa nemenin gue lembur dihari sabtu lagi sakit, jadi ga enak liat dia terkantuk-kantuk dan lemes, terpaksa gue suruh dia pulang meninggalkan gue sendirian dikantor... huaaaaa...hiks..hiks..hiks.. (rada syereem sich. red). I M ALONE....

Iseng telp temen "G" jaman waktu skripsi dulu... eh dia dah kerja di makasar. Waduh... sumpah gue kangen banget ma dia. Lama ga ketemu ternyata kabar dia baik-baik aja n dah berkarir loch boo... sutralah jadi rang makasar saja, disana enak too. Dah seminggu ini gue nonton Q film festival dan bedah bukunya... ga tau kenapa gue merasa muda dan bergairah lagi. GIELA.... dah lama banget deh kayanya gue ga bener-bener menjadi "manusia". Bener kata temen gue, keseharian dan rutinitas yang kita jalanin setiap hari, tanpa kita sadari dah mengubah kita jadi robot dan kehilangan 'human sense'. Makanya begitu temen gue ngasih kabar ada festival film (even im not part of their ingroup. red) gue jabanin untuk dateng. Dan ternyata bener... gue tuh ngerasa seger lagi, kaya jaman-jaman kuliah dulu gitu deh. (Wuah syeneng buangeet...)

Buat temen-temen yang lagi suntuk ma love and work live nya... mending coba sesuatu yang berbeda deh... nanti pasti enjoy... hehehe...

Ciao