18 Juni 2006 kemaren, temen kampus... sekaligus temen kantor lama merid.
Berangkat pagi-pagi banget demi janji menghadiri akad nikahnya di Taman Mini jam 8 pagi boow. Dari rumah jemput Listi di blok M, trus lewat pancoran narik chiqa. Ditaman mini kita ketemu ma Anita dan Elly. Jadi reunian masa-masa kerja di FNS Cibitung.
Dulu tuh waktu masih sama-sama kerja di FNS, kita sering banget hang out bareng... Ga maksud sich, tapi kayannya akhirnya kebentuk peer group deh. Kebetulan aja satu peer anak2nya ga ada yg mengecewakan secara fisik. (Baca: cantik dan manis-manis gethoo loch. red) Ya ada jeleknya juga sich ngepeer gitu, jadi dianggap ekslusif dan walhasil ada beberapa pihak yg like and dislike..
Trus lambat laun, berguguran satu-satu (Baca: pindah kerja.red) jadi tinggal 2 orang yang masih bertengger disitu. Sepi... kasian juga...
Habis akad, langsung ke gedung resepsi ikutin upacara adatnya dulu. Ribet juga ya...merid. Hmn... Uty, elo cantik banget deh... cucok banget jadi penganten ^-^.
Disana gue juga ketemu temen-temen kampus, dah lama ga liat mereka. Ada yg tambah gemuk kaya gue, ada yg melangsing... ada yg dah hamil, ada yg lagi nunggu kehamilan... wuidih... pokoknya rame buanget. Seneng juga ketemu mereka... tapi semua dah ga sama ya. Ga bisa disamain kaya dulu lagi. Mereka terlihat dah dewasa banget, koq gue merasa gue yg masih kaya anak-anak... hmn... live
Pulang dari sana kita berlima (Listi, Eli, Chiqa, anita n gue) ngelanjutin ngerumput sore-sore di blok M. Bakwan malang karapitan dan es telernya cukup bikin kita melek... As usuall, kalo ada lebih dari 1 orang cewe berkumpul maka topik yg hangat untuk diangkat adalah tentang siapa lagi... kalo bukan... COWO... mahluk dari planet mars yang kadang dirindukan kedatangannya kadang di hujat kehadirannya... hahahahahaha...
Intinya... ternyata kita sama-sama merindukan figur lelaki yg punya tujuan hidup jelas dan mau kerja keras untuk mencapai tujuan itu. Ga perlu ganteng, ga perlu kaya, ga perlu sesuai dengan kriteria imajinasi kita tentang pasangan ideal. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri yang berkehendak dan mau bekerja keras. Kalo pun ternyata dia ganteng... ya itu jakpot lach buat kita....
Monday, June 19, 2006
Wednesday, June 14, 2006
I Believe My Heart
(Lirik lagu bule... )
Whenever i see your face
the world dissappears
All in a single glance of... revealing
You smile and i feel as though
ive known you for years
How do i know to trust what... im feeling
I believe my heart...
what else can i do...
When every part of every thought
leads me straight to you...
I believe my heart...
theres no other choice...
For now whenever my heart speaks
i can only hear your voice...
A lifetime before we met
has faded away
How did i live a moment... without you
You dont have to speak at all
i know what you'd say
And i know every secret... about you
I believe my heart...
it believes in you...
Its telling me that what i see
is completely true...
I believe my heart...
how can it be wrong...
It says that what i feel for you
i will feel my whole life long...
I believe my heart
it believes in you...
Its telling me that what i see
is completely true...
And with all my soul...
i believe my heart...
The portrait that it paints of you
is a perfect work... of art
note : its hard to believe my heart totally 100 %... hehehehe
Whenever i see your face
the world dissappears
All in a single glance of... revealing
You smile and i feel as though
ive known you for years
How do i know to trust what... im feeling
I believe my heart...
what else can i do...
When every part of every thought
leads me straight to you...
I believe my heart...
theres no other choice...
For now whenever my heart speaks
i can only hear your voice...
A lifetime before we met
has faded away
How did i live a moment... without you
You dont have to speak at all
i know what you'd say
And i know every secret... about you
I believe my heart...
it believes in you...
Its telling me that what i see
is completely true...
I believe my heart...
how can it be wrong...
It says that what i feel for you
i will feel my whole life long...
I believe my heart
it believes in you...
Its telling me that what i see
is completely true...
And with all my soul...
i believe my heart...
The portrait that it paints of you
is a perfect work... of art
note : its hard to believe my heart totally 100 %... hehehehe
... a decission... (part 3)
13 Juni 2006, 11.00 malem
(abis nonton world cup, Korsel ~ Togo)
Today… the day after our (baca : gue and feli. red) meeting with feli’s parents. Feli jemput gue dikantor, selama perjalanan dia cerita banyak hal… include private conversation antara dia dan mamanya dikamarnya kemarin malam. (After i went home from his house... Cuma berdua jek… red).
”Semua yang dibilang mama bener De, bagaimana seandainya itu terjadi?” (ya emang bener, tapi bukan berarti kita mundur disaat kita mulai maju khan...? red)
Hon... kenapa malam ini kamu jadi terlihat bimbang?
Sebelumnya... De adalah pihak yang selalu bimbang dalam memutuskan the ”W” phenomena. dan Fe selalu penuh keyakinan.
Sebenernya siang tadi, setelah pembicaran yang cukup dalam dan menyenangkan dengan teman-teman , De sudah memantapkan hati untuk mengambil sebuah keputusan dari alternative-alternative yang pernah Fe utarakan. Keputusan yang baik bagi semua pihak walaupun itu berarti kita harus berpisah untuk sementara waktu. Tapi kenapa sekarang Fe yang ragu...? (dari dulu kaya gini terus... maju... mundur... maju... mundur lagi... CAPE. red)
Kita flash back deh ...
20 November 1997, kita sepakat untuk membuat komitmen (teenage commitment. red) jangka pendek yang tidak pernah kita duga akan bertahan sampai hari ini.
Perbedaan nyata yang terbentang di antara kita, suku bangsa dan budaya, menjadi suatu tantangan tersendiri yang harus kita hadapi dan taklukan.
Masih terbayang jelas saat-saat dimana miskomunikasi terjadi antara dua keluarga.
Saat-saat dengan terpaksa kita harus backstreet... (what a tired days... red).
Saat-saat dimana kita harus jadi ‘jaim’ di depan semua keluarga dan membangun mental tembok supaya kuat menghadapi berbagai hujatan dan ketidaksukaan... (it is the time when i can't be my self. red)
Saat-saat dimana kita berdua berjuang meraih prestasi demi pegakuan dari keluarga.
Saat-saat dimana pada akhirnya kita bisa berhubungan dan berkomunikasi hangat dengan semua keluarga. (saat-saat yang sungguh kami nantikan sejak lama, tapi baru tercapai kurang lebih dua tahun terakhir ini. red).
Hampir sembilan tahun sudah kita berjuang melalui hari-hari berat penuh tantangan itu. Dan disaat sekarang kita bisa merasakan sedikit saja kelegaan... kita dihadapkan pada keputusan dengan altenatif pilihan yang sulit... sulit untuk diputuskan. (Haruskah De menunggu lebih lama lagi? Atau... Haruskah untuk sekali lagi De tidak mendapat kepastian tentang kelanjutan hubungan kita?. red)
Sebenarnya, im not the decision maker in this situation.
Dalam budaya timur, laki-laki lebih berperan dalam pengambilan keputusan. Kenapa jadi De yang dibuat bingung dan menunggu. Seandainya memang ternyata harus menunggu 4 tahun lagi… ga janji deh... (mungkin bisa... tapi mungkin juga nggak. red) Kita lihat saja nanti...
note: nulis malem-malem sambil dengerin "i believe my heart"
(abis nonton world cup, Korsel ~ Togo)
Today… the day after our (baca : gue and feli. red) meeting with feli’s parents. Feli jemput gue dikantor, selama perjalanan dia cerita banyak hal… include private conversation antara dia dan mamanya dikamarnya kemarin malam. (After i went home from his house... Cuma berdua jek… red).
”Semua yang dibilang mama bener De, bagaimana seandainya itu terjadi?” (ya emang bener, tapi bukan berarti kita mundur disaat kita mulai maju khan...? red)
Hon... kenapa malam ini kamu jadi terlihat bimbang?
Sebelumnya... De adalah pihak yang selalu bimbang dalam memutuskan the ”W” phenomena. dan Fe selalu penuh keyakinan.
Sebenernya siang tadi, setelah pembicaran yang cukup dalam dan menyenangkan dengan teman-teman , De sudah memantapkan hati untuk mengambil sebuah keputusan dari alternative-alternative yang pernah Fe utarakan. Keputusan yang baik bagi semua pihak walaupun itu berarti kita harus berpisah untuk sementara waktu. Tapi kenapa sekarang Fe yang ragu...? (dari dulu kaya gini terus... maju... mundur... maju... mundur lagi... CAPE. red)
Kita flash back deh ...
20 November 1997, kita sepakat untuk membuat komitmen (teenage commitment. red) jangka pendek yang tidak pernah kita duga akan bertahan sampai hari ini.
Perbedaan nyata yang terbentang di antara kita, suku bangsa dan budaya, menjadi suatu tantangan tersendiri yang harus kita hadapi dan taklukan.
Masih terbayang jelas saat-saat dimana miskomunikasi terjadi antara dua keluarga.
Saat-saat dengan terpaksa kita harus backstreet... (what a tired days... red).
Saat-saat dimana kita harus jadi ‘jaim’ di depan semua keluarga dan membangun mental tembok supaya kuat menghadapi berbagai hujatan dan ketidaksukaan... (it is the time when i can't be my self. red)
Saat-saat dimana kita berdua berjuang meraih prestasi demi pegakuan dari keluarga.
Saat-saat dimana pada akhirnya kita bisa berhubungan dan berkomunikasi hangat dengan semua keluarga. (saat-saat yang sungguh kami nantikan sejak lama, tapi baru tercapai kurang lebih dua tahun terakhir ini. red).
Hampir sembilan tahun sudah kita berjuang melalui hari-hari berat penuh tantangan itu. Dan disaat sekarang kita bisa merasakan sedikit saja kelegaan... kita dihadapkan pada keputusan dengan altenatif pilihan yang sulit... sulit untuk diputuskan. (Haruskah De menunggu lebih lama lagi? Atau... Haruskah untuk sekali lagi De tidak mendapat kepastian tentang kelanjutan hubungan kita?. red)
Sebenarnya, im not the decision maker in this situation.
Dalam budaya timur, laki-laki lebih berperan dalam pengambilan keputusan. Kenapa jadi De yang dibuat bingung dan menunggu. Seandainya memang ternyata harus menunggu 4 tahun lagi… ga janji deh... (mungkin bisa... tapi mungkin juga nggak. red) Kita lihat saja nanti...
note: nulis malem-malem sambil dengerin "i believe my heart"
... a decission... (part 2)
Hari ini...
ada banyak input positif dari temen-temen yang cukup concern dengan keadaan gue. Tentang keputusan apa yang harus gue ambil tentang kondisi hubungan gue. (Thanks guys… for all ur support, u give me much inspiration today. red)
Isi kepala banyak orang itu memang lebih baik daripada cuma satu orang. Dengan kondisi yang gue hadapi sekarang ini, kurang lebih 2 temen gue memberi masukan yang positif. (Uty, mbak Eli… thanks a lot. red). We can’t never run away from being older and mature, enak ga enak… asik ga asik… gue emang harus mengambil keputusan terhadap kondisi gue.
At least sekarang gue sedikit yakin deh mengenai keputusan yang harus gue ambil. Ok hun.. i m ready to start the new journey with u... no matter what the problem in front of us.
(sikap positif gue di hari selasa, 13 Juni 2006, pagi hari... sebelum ketemu Feli. red)
ada banyak input positif dari temen-temen yang cukup concern dengan keadaan gue. Tentang keputusan apa yang harus gue ambil tentang kondisi hubungan gue. (Thanks guys… for all ur support, u give me much inspiration today. red)
Isi kepala banyak orang itu memang lebih baik daripada cuma satu orang. Dengan kondisi yang gue hadapi sekarang ini, kurang lebih 2 temen gue memberi masukan yang positif. (Uty, mbak Eli… thanks a lot. red). We can’t never run away from being older and mature, enak ga enak… asik ga asik… gue emang harus mengambil keputusan terhadap kondisi gue.
At least sekarang gue sedikit yakin deh mengenai keputusan yang harus gue ambil. Ok hun.. i m ready to start the new journey with u... no matter what the problem in front of us.
(sikap positif gue di hari selasa, 13 Juni 2006, pagi hari... sebelum ketemu Feli. red)
Monday, June 12, 2006
...a decission...
Monday, 12 June 2006, 10.40 am. Im surprised by an sms...
Not ordinary sms as usually, it cames from my boy friend's father. The content really-really make me shock... I think i don't have to rewrite the sms, but the point is... he give me a suggest about my marriage / wedding condition, my post marriage condition and asking my decision.
Oh my God.. what a surprising opening conversation in sms..
Sepertinya lebih enak kalo mengawali pembicaran tentang "W" fenomena dengan pertanyaan mengenai kondisi hubungan gue sekarang dengan cowo gue (yang notabene adalah anaknya. red). Or at least, ask my willingness... mo dibawa kemana hubungan kami ini. Nah baru asik tuh kebelakangnya membahas soal "W" fenomena. (gile cing... langsung ditembak... DORR... pucet deh langsung... asli... hehehehe. red)
Tapi gue yakin bahwa sms itu datang dengan kesadaran penuh seseorang yang berpikir positif tentang hubungan gue dan cowo gue. Dan mungkin karena positifnya, dia yakin bahwa kami anak-anaknya dah cucok satu sama lain.... (hmn... huud... huud... positif dad, nowdays there are only several person who think like this. red)
Tapi kalo dipersepsikan sesaat dari isi smsnya, it seems like the decission about "W" phenomena is totaly in my hand. (Is it truth that all the decission is depend on me? red)
Kalo mikirin soal umur...
emang udah seharusnya sich melangkah ke level selanjutnya. Ibarat game, ga mungkin khan bertahun-tahun stay di level yang sama.. kalo ada orang yang sampe begitu tuh... ada dua option... either tu orang bloon banget sampe ga bisa maju ke next level... or... tu orang dah comfort di level itu karena menguasai games dengan sangat baik and ga mau nerima tantangan yg ada di level selanjutnya. (tul ga gamers-gamers sejati?. red)
Kalo mikirin kondisi...
nah ini nich yang bikin jadi rada ribet. Ibaratnya bunga... kami (baca: gue dan cowo gue. red) mekar diwaktu yang tidak bersamaan. Diusia gue yang sekarang, boleh dibilang... im in process to reach the top, sedangkan cowo gue... he is in the begining to start the process. Perkembangan yang ga seirama ini bener-bener membuat kita kewalahan untuk menyamakan langkah. Berbagai altenatif solusi yang masuk akal yang dirasa mampu untuk menyamakan langkah ini sudah diupayakan... sedikit membantu... ada irama-irama yang bisa sejalan... tapi banyak pula yang tidak. (its ok i think... differences make us rich. red)
Tapi kemudian waktu memunculkan keraguan dari ketidaksamaan kondisi ini...
Beranikah kami saling memberikan effort lebih supaya langkah kami seirama?
Beranikah kami untuk saling mengurangi kesenangan dan kebahagian masing-masing demi pasangan?
Beranikah kami untuk tetap saling menghargai dan menyayangi walaupun langkah kami pincang dan gontai?
Kenapa gue ga berani yach... ga berani sakit lagi... ga berani terluka lagi... ga berani berkorban... untuk sesuatu yang memang layak untuk gue perjuangkan.
We've been together for almost 9 (nine) years... yang penuh dengan tidak hanya sukacita, tapi juga beribu dukacita... come on, thats not a short time. Kita dah pernah lalui banyak kesulitan khan... harusnya gue ga takut untuk menerima kesulitan-kesulitan lainnya... tapi hari ini... saat ini... gue merasa sangat lelah untuk berjuang lagi. Habis sudah tenaga dan semangat ini untuk mempertahankan apa yang sudah kita bangun... maafkan gue... (please understand thats its really-really a hard time for me. red)
Note : do i still have to believe my heart as u told me honey?
Not ordinary sms as usually, it cames from my boy friend's father. The content really-really make me shock... I think i don't have to rewrite the sms, but the point is... he give me a suggest about my marriage / wedding condition, my post marriage condition and asking my decision.
Oh my God.. what a surprising opening conversation in sms..
Sepertinya lebih enak kalo mengawali pembicaran tentang "W" fenomena dengan pertanyaan mengenai kondisi hubungan gue sekarang dengan cowo gue (yang notabene adalah anaknya. red). Or at least, ask my willingness... mo dibawa kemana hubungan kami ini. Nah baru asik tuh kebelakangnya membahas soal "W" fenomena. (gile cing... langsung ditembak... DORR... pucet deh langsung... asli... hehehehe. red)
Tapi gue yakin bahwa sms itu datang dengan kesadaran penuh seseorang yang berpikir positif tentang hubungan gue dan cowo gue. Dan mungkin karena positifnya, dia yakin bahwa kami anak-anaknya dah cucok satu sama lain.... (hmn... huud... huud... positif dad, nowdays there are only several person who think like this. red)
Tapi kalo dipersepsikan sesaat dari isi smsnya, it seems like the decission about "W" phenomena is totaly in my hand. (Is it truth that all the decission is depend on me? red)
Kalo mikirin soal umur...
emang udah seharusnya sich melangkah ke level selanjutnya. Ibarat game, ga mungkin khan bertahun-tahun stay di level yang sama.. kalo ada orang yang sampe begitu tuh... ada dua option... either tu orang bloon banget sampe ga bisa maju ke next level... or... tu orang dah comfort di level itu karena menguasai games dengan sangat baik and ga mau nerima tantangan yg ada di level selanjutnya. (tul ga gamers-gamers sejati?. red)
Kalo mikirin kondisi...
nah ini nich yang bikin jadi rada ribet. Ibaratnya bunga... kami (baca: gue dan cowo gue. red) mekar diwaktu yang tidak bersamaan. Diusia gue yang sekarang, boleh dibilang... im in process to reach the top, sedangkan cowo gue... he is in the begining to start the process. Perkembangan yang ga seirama ini bener-bener membuat kita kewalahan untuk menyamakan langkah. Berbagai altenatif solusi yang masuk akal yang dirasa mampu untuk menyamakan langkah ini sudah diupayakan... sedikit membantu... ada irama-irama yang bisa sejalan... tapi banyak pula yang tidak. (its ok i think... differences make us rich. red)
Tapi kemudian waktu memunculkan keraguan dari ketidaksamaan kondisi ini...
Beranikah kami saling memberikan effort lebih supaya langkah kami seirama?
Beranikah kami untuk saling mengurangi kesenangan dan kebahagian masing-masing demi pasangan?
Beranikah kami untuk tetap saling menghargai dan menyayangi walaupun langkah kami pincang dan gontai?
Kenapa gue ga berani yach... ga berani sakit lagi... ga berani terluka lagi... ga berani berkorban... untuk sesuatu yang memang layak untuk gue perjuangkan.
We've been together for almost 9 (nine) years... yang penuh dengan tidak hanya sukacita, tapi juga beribu dukacita... come on, thats not a short time. Kita dah pernah lalui banyak kesulitan khan... harusnya gue ga takut untuk menerima kesulitan-kesulitan lainnya... tapi hari ini... saat ini... gue merasa sangat lelah untuk berjuang lagi. Habis sudah tenaga dan semangat ini untuk mempertahankan apa yang sudah kita bangun... maafkan gue... (please understand thats its really-really a hard time for me. red)
Note : do i still have to believe my heart as u told me honey?
Subscribe to:
Posts (Atom)