Tak terasa 1000 hari telah kau pergi tinggalkan kami dengan sejuta kenangan manis. Hidup… terlalu singkat untukmu… ku tau masih banyak impian dan harapan yang ingin kau wujudkan dan ingin kausaksikan.
Ku ingat saat-saat akhir kepergiaanmu…
Bagaikan mimpi, kejadian tragis itu menjadi sebuah tanda akhir kehidupanmu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kau pergi tinggalkan kami dengan cara yang demikian. Kami anak2mu telah Tuhan buat untuk melihat kebesaran kuasa NYA atas manusia. Sungguh, saat semua itu terjadi dihadapan kami anaknya, rasanya kami tak punya kekuatan dan kendali untuk meminta kebahagiaan kami. Saat itu…
Untuk pertama kalinya kulihat tubuh ayahku yang kekar dan besar terbaring dengan kelemahan dan ketidak berdayaannya sebagai manusia. Tubuh yang selama ini selalu ayah gunakan untuk menopang kehidupan kami, tubuh yang selama ini selalu menjaga dan melindungi kami, tubuh yang selama ini selalu ayah gunakan sebagai contoh bagi kami agar meneledani ajaran2 Tuhan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat kondisi ayah yang seperti itu. Saat pertama kali ibu menghubungi ku lewat ponsel dan memberi tahu bahwa ayah mendapat kecelakaan, ku pikir itu hanya sebuah kecelakaan kecil seperti kecelakaan yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Ternyata ibu sebisa mungkin tidak membuatku kawatir dan shock dikantor walaupun sebenarnya dia sangat2 sedih dan shock. Keadaan ayah luar biasa parahnya, jahitan lebar membentang dari ujung kiri ke ujung kanan kepala ayahku. Tingkat kesadarannya level 4 kata dokter, keadaan yang amat buruk. Saat itu dokter tidak berani bicara apa-apa, tapi kami tetap berharap banyak dalam kebisuan dokter-dokter itu. Upaya2 kami lakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi ayah kami sebenernya saat itu, dan berbagai cara kami lakukan untuk bisa memberikan perawatan yang terbaik baginya saat itu. Tapi kami sungguh kecil dan tidak kuasa…. Tak banyak hal yang bisa kami lakukan untuk menolong ayah kami, semua jalan terasa buntu saat itu. Bila mengingat hal itu, kadang kami masih merasa bersalah. Maafkan kami ayah, karena tidak bisa memberikan yang terbaik bagimu saat itu terjadi.
Saat akhirnya kau pergi, itu adalah saat yang sangat menyedihkan untukku. Selama ini, kau adalah orang yang paling dekat denganku ayah. Orang yang paling sering kujadikan teman berdiskusi, orang yang paling mengerti aku, orang yang paling bisa kuteladani. Caramu hidup… caramu berrelasi… caramu menjadi besar… dan caramu memotivasi… selalu menjadi inspirasiku dalam hidup. Banyak hal yang ingin aku pelajari dari engkau dalam memasuki dunia kerja. Saat itu aku berpikir bahwa dalam hari-hari kedepan kita akan lebih banyak bisa berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam dunia kerja. Tapi toh hidup adalah hidup… harus dijalani sesuai dengan kontraknya. Saat kontrak itu berakhir, apakah kita punya hak untuk memperpanjangnya?... tidak.
Dengan seluruh kesadaranku aku menyadari hal itu, tapi mengapa hidupku seperti ini sekarang? Ku hidup hanya untuk masa kini… tidak perduli dengan masa depan… hidup hanya untuk kesenangan saat ini… itu bukan hidup yang diteladani ayahku. Ayahku pasti tidak ingin aku hidup dengan cara-cara seperti itu. Tapi mengapa masih tetap aku lakukan hal itu. Dad… don’t be upset, I’ll try to live in a better way and always remember the way u live coz u had Jesust inside u. I love u dad.
No comments:
Post a Comment