Saturday, September 09, 2006

... Pengakuan ...

Ini adalah sebuah pengakuan dari seseorang yang menyebut dirinya "sahabat."

Kalian bisa panggil gue "Vita". Itu nama yang gue dapet dari kecil. Bonyok dan kaka gue suka panggil gue "..vi", temen-temen sekolah dan kuliah panggil gue "devita", sebagian temen kantor panggil gue "bidu", keponakan panggil gue "apit", salah satu temen AV panggil gue "bibir", dan yang terakhir... cowo gue panggil gue "de".

Banyaknya nama panggilan gue, bukan berarti gue punya segudang nama samaran. Entahlah... mungkin mereka sayang ma gue, makanya mereka ngasih nama panggilan yang berbeda-beda. Tapi yang pasti, gue sayang sama mereka semua.

Dari dulu juga, gue sering dijadiin tempat curhat ma temen-temen gue. Gue juga ga pernah tau alasan mereka memilih gue. Mungkin gue pilihan yang mereka anggap baik... mungkin juga nggak... gue ga tau. Tapi perlukah gue tau alasan mereka, kenapa mereka mempercayakan gue untuk menyimpan rahasia dan perasaan pribadi mereka?... gue rasa ga perlu. Tooh... yang namanya percaya itukan feeling, rada susah dicari alasannya.
Padahal... gue bukan orang yang sabar, gue ga kalem, gue ga mengayomi, gue kalo ngomong apa adanya, gue ga suka bermanis-manis kalo kenyataanya ga manis, gue akan bilang nggak kalo memang realnya ga seperti yang oranglain harapkan. ITULAH GUE.... "Devita"
Gue juga ga pernah maksa orang lain untuk cerita ke gue. Apalagi masalah pribadi mereka... ya ampyun... bukan gue banget sich kalo sampe gitu.

Entah karena alasan apa juga, ada seorang sahabat yang selalu bercerita mengenai romantika percintaanya ke gue. Kebetulan sekali, pacarnya dia.. juga temen main gue. Kita bertiga cukup deket dan kenal satu sama lain. Gue ngikutin jalannya hubungan mereka...
Suatu saat, seorang sahabat itu datang ke gue dan bercerita panjang lebar... bercerita mengenai kehidupan percintaan mereka yang sudah ga sehat karena banyak sekali pertengkaran dan ketidakpercayaan. Wajar mungkin... karena masing-masing dari mereka sudah pernah saling menyakiti dan saling tidak setia.

Sebagai seorang teman, adalah tugas gue untuk membantu mereka. Dan sebisa mungkin gue berusaha memberikan masukan-masukan positif supaya mereka bisa bertahan. Tapi kondisinya gue liat semakin buruk.... Gue kehabisan akal untuk memberi masukan positif karena mereka berdua adalah temen-temen gue. Bukan hanya pihak cowo yang temen gue, tapi cewenya juga. Gue berpikir daripada mereka saling menyakiti terus dan terus tidak berkesudahan, gue menyarankan pada pihak cowo (karena kebetulan waktu itu yg tlp gue si cowo nya. red) untuk mengakhiri hubungan mereka. Gue pikir... dengan perpisahan, mereka bisa lebih introspeksi diri... mereka jadi bisa menyadari arti keberadaan masing-masing pihak, jadi mengerti perasaan mereka masing-masing, jadi tidak egois, dan jadi lebih bisa menghargai dan menyukuri kebersamaan mereka selama ini. Gue SANGAT BERHARAP mereka bisa begitu.

Tapi kenyaatannya berbeda, mereka tidak berubah.... mereka hanya berkutat dengan pikiran dan pendirian mereka masing-masing. Mereka masih tetap saling menyalahkan...
Jika memang salah satu dari mereka marah ke gue, karena gue menjadi penyebab perpisahan mereka... gue rela... iklas... pasrah... asalkan dari situ segalanya bisa menjadi lebih baik dan bukan semakin buruk.

NGERTI ga sich FREN...

Gue akan selalu jadi temen elo... saat elo berubah nanti menjadi lebih baik.

No comments: