Kanvasputihku
...Kan kuisi kau dengan hentakan tuts ku...
Tuesday, September 13, 2011
Harapan Vs Kecewa
Bahwa bumi dan segala isinya terbentuk karena adanya harapan.
Bahwa harapan ikut lahir bersama hadirnya seorang bayi ke dunia ini.
Bahwa harapan ikut tumbuh besar seiring kedewasaan kita.
Bahwa harapan lach yang telah melindungi kita dari keputusasaan.
Dan bahwa harapan jugalah yang telah mengajarkan arti kekecewaan dan kepasrahan.
Jika dalam kehidupan ini seringkali sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan, haruskan kita menjadi marah dan kecewa?
pada 'dia' yang telah hadir dan mendampingi kita selama bertahun-tahun.
Apakah perlu untuk dipertanyakan siapa yang bersalah dalam hal ini?
Rasanya tidak adil jika kita kemudian menjadi takut berharap karena takut kecewa.
Tidak bijak bila kemudian kita berhenti berharap untuk menghentikan kekecewaan.
Ingat teman, bahwa harapan adalah bagiannya manusia... dan kenyataan adalah bagianNYA.
Ingat pula bahwa setiap kali kita menggores harapan-harapan dalam lembar kehidupan kita, kita telah menyerahkan penghapusnya pada Tuhan.
Karena hanya DIA lach editor yang akan membuat lembaran itu menjadi indah dan sempurna.
Dan tahukah teman,
Ketika kita kecewa, kita harus melepaskan "forgive" dan bukan melupakan "forget"
karena :
"for get" is what we want to get & keeping it inside us... and "for give" is what we want to let go.
Ini menjelaskan pada kita mengapa pada saat kita ingin melupakan "forget" sering kali kita menemui kesulitan dan malah terus menerus mengingat, sedangkan pada saat kita memafkan "forgive" kita bisa dengan lebih mudah melepaskan dan kemudian melupakan.
(aku yang sedang belajar bersyukur)
Friday, July 08, 2011
Kesetiaan
aku terlahir dari rahim seorang wanita jawa sederhana yang tidak berpendidikan tinggi. bukan karena tidak mau, tetapi kesempatan tidak memberinya ruang untuk itu. ayahnya hanyalah seorang petani penggarap di sebuah desa terpencil yang karena kegigihannya akhirnya mampu untuk membeli sebidang tanah garap yang digunakan untuk menafkahi keluarganya.
dibandingkan dengan teman-temannya, ibu dipandang cukup memiliki pendidikan padahal hanya sekolah menengah pertama. kesempatan beasiswa ke tingkat selanjutnya terpaksa pupus karena kemiskinan. mimpi besarnya untuk maju dan berkembang membawanya merantau ke Jakarta bertarung dengan nasibnya. "Hidup itu pilihan" itulah yang mendorongnya untuk melawan ketakutannya dan mempertaruhkan peruntungannya di Jakarta.
sadar bahwa pendidikannya formalnya tidak tinggi, ibuku tidak pernah malu dan ragu untuk mempelajari pendidikan informal keputrian yang akhirnya justru membuatnya dikenal orang.
sama halnya dengan ibuku, bapakku juga seorang pembelajar. selepas menyelesaikan sekolah pendidikan guru, dan tak mampu membiayai kuliahnya ia meminta restu kedua orangtuanya untuk menantang masa depannya di Jakarta. bermodalkan ijasah sederhana itu, bapakku mengetuk setiap kesempatan yang ada di Jakarta untuk memberinya ruang menjadi manusia yang berhasil menggapai mimpinya. tapi Jakarta bukanlah kota yang murah hati untuk memberikan sejuta kesempatan pada laki-laki muda dari desa itu. mulai dengan menjadi pekerja fisik harian sampai dengan akhirnya menjadi orang nomor 1 di organisasi pendidikannya ia lakukan tanpa kata lelah. bapakku mencintai semua hal yang berhubungan dengan organisasi dan sosial. untuk bapak, menjadi bagian dari kelompok amatlah menyenangkan. banyak orang mengasihi bapak karena kharisma dalam kesederhanaanya. kelak aku terkejut dengan jumlah orang yang mengantarnya ke peristirahan terakhirnya.. saat itulah aku tau bahwa bapakku dicintai banyak orang.
jakarta tidak hanya memberi bapak dan ibuku kesempatan, tetapi juga memberikan mereka sebuah rasa baru yang tidak palsu... cinta...
setelah melalui perjuangan cinta dan kebersamaan yang tidak mudah, mereka akhirnya menikah di depan altar. mengucap janji setia untuk saling menyayangi dan meminta kemurahan Tuhan untuk selalu membaharui rasa itu.
hidup mereka sulit, kami pernah mendengarnya. hidup kami tidak mudah, kami merasakannya.
bapak, ibu dan kami (aku dan kakakku) besar dengan banyak perjuangan. perjuangan yang banyak dicontohkan oleh kedua orang tua kami. dan perjuangan itulah yang kemudian membuat kami amat mengasihi mereka.
saat kami besar, aku ingat bahwa mimpi bapakku tidak pernah padam. mimpi untuk menjadi seorang sarjana di dunia pendidikan. bermodalkan tekad yang besar dan dorongan dari ibu, mereka bekerja sama untuk mewujudkan mimpi itu. sekali lagi, dengan kesederhanaan dan kesahajaan mereka, kakakku dan aku pun dapat menikmati pendidikan tinggi seperti ayahku. saat itu hanya ibuku yang tidak memiliki titel sarjana dirumah, tapi itu bukan berarti bahwa ia kehilangan semangat untuk mengejar mimpinya. ibu tidak kehilangan mimpinya, ia hanya merubah wujud mimpinya menjadi "penasehat sarjana". kenapa? karena walaupun hanya ia yang tidak sarjana, tetapi ia selalu menjadi orang pertama yang kami mintai nasihat dan petunjuk dalam segala hal.. hebat kan ^^
bapak dan ibuku saling menjaga dan menyayangi. mereka tidak bisa dipisahkan bagaikan panah dan busur. semasa hidupnya, mereka selalu melakukan aktivitas sosial bersama. kalau bapak menjadi ketua lingkungan, maka ibu menjadi ketua WK (a.k.a wanita katholik). kalau bapak menjadi ketua RT, maka ibu menjadi ketua PKK. sungguh lucu kalau di ingat. namun diatas segala kesibukan mereka, kami anak-anaknya tetap yang utama.
ketika akhirnya ibu harus dipisahkan dari bapak karena sebuah kecelakaan tragis merenggutnya (18 agustus 2003), aku melihat bahwa separuh jiwanya terbang bersama kekasih hatinya itu. ibu menangis tanpa air mata. ibu luluh lantak, terhenyak, dan tersungkur tapi tidak menampakkannya. kami tau ibu terluka, kami tau ibu berduka, dan kami tau duka itu tidak pernah hilang oleh hiburan-hiburan kami. tapi ibu tegar dan tetap berjuang untuk mengantar kami anak-anaknya sampai menikah karena itu janji ibu pada bapakku di saat terakhirnya.
dua tahun yang lalu, timbunan duka yang tertumpuk 6 tahun lamanya telah berubah menjadi racun ganas dan berbahaya bernama 'kanker' yang terdiagnosa tepat 1 bulan setelah kelahiran putraku. untuk kesekian kalinya ibu harus berjuang dan berjuang dalam kehidupannya. disaat sakitnya, jarang sekali ibuku mengeluh padahal kami tau betapa sakit tubuhnya dan betapa tertekan jiwanya. aku dan kakak punya keluarga yang cukup menyita waktu kami untuk memberikan perhatian penuh pada ibu. kadang ibu harus berjuang sendirian, kadang kami tidak cukup peka terhadap perasaan dan kebutuhannya tapi beliau amat mengerti dan tidak menuntut.
ada sebuah kalimat yang sempat diucapkan oleh ibuku sesaat sebelum dirinya koma dan akhirnya pergi (29 april 2011), "aku tidak akan berpaling". kalimat ini merupakan tanggapan dari doa tanteku yang meminta agar Tuhan memberikan kekuatan iman untuk tetap setia dan berharap padaNYA disaat sakit.
dari semua pengalaman hidupku, aku belajar dari melihat, mendengar dan merasakan bahwa kesetiaan dan kepasrahan telah di contohkan kedua orang tuaku.
bapak dan ibu semasa hidupnya telah mengajarkan kami tentang kesetian. kesetiaan terhadap pasangan, terhadap peran masing-masing, dan terhadap iman.
aku berharap, kelak aku mampu memberikan contoh dan teladan kesetiaan kepada putraku.
*untuk bapak dan ibu disurga*
thanks to wisnu untuk blognya yg menginspirasi saya untuk kembali menulis di blog ini.
Thursday, July 07, 2011
Wonderful Day
"Today i will trust in Him, and not be affraid"
"For He will be there, For He will be there"
"Every moment to share, in this wonderful day He has made"
*Song: Wonderful Day*
Aku memandang Pernikahan & Tuhan hanya secara sederhana dalam 2 hal yaitu :
- Penyerahan Diri dan Penyangkalan Diri -
Lagu diatas biasa kunyanyikan saat mengiringi sahabat-sahabatku maju ke altar untuk sakramen pernikahan mereka. Dan ternyata lagu ini cukup digemari oleh banyak orang untuk dinyanyikan pada acara penikahan.
Entah apakah sabahat-sahabatku menyadari arti lagu ini sesungguhnya atau tidak...
Kalau di teliti lebih dalam, lagu ini sarat dengan pesan penyerahan diri pada Tuhan atas segala rancangan Nya dalam hidup kita.
Sadar atau tidak, biasanya lagu ini dipilih sebagai awal sebuah prosesi penyerahan diri total kepada Allah yang akan dilanjutkan dengan untaian janji-janji pernikahan yang akan diucapkan di depan tidak hanya pasangan tapi juga Imam, teman, kerabat dan banyak handai taulan.
Ada beberapa point yang secara personal saya pahami tentang pernihakan dan Tuhan, karena menurut saya hampir memilik kesamaan dalam konteks engagement atau komitmen, melalui prosesi pernikahan. Berikut saya kutip kata-kata yang biasanya ada di buku panduan pernikahan.
satu:
Ya Tuhan, kami serahkan hidup kami seutuhnya pada penyelenggaranMu, bentuklah kami menjadi pribadi yang lebih baik melalui pernikahan ini. Dan pakailah kami dalam rancanganMu untuk kebaikan bukan hanya kami sendiri melainkan juga untuk banyak orang.
Kesimpulan:
Saya menyerahkan diri dan pasangan saya seutuhnya padaMu.
inilah yang saya sebut Penyerahan Diri.
dua:
Ya Tuhan, aku berjanji untuk menyangkal seluruh ke egoisan diriku, menyangkal untuk mencari keuntungan diri sendiri, dan menyangkal seluruh bentuk pengutamaan diri sendiri. Semoga aku dan dia sama-sama dimampu mendahulukan kepentingan pasangan dan anak kami diatas kepentingan diri sendiri.
Kesimpulan:
Saya dan pasangan berjanji untuk saling menyangkal diri yang penuh dengan keinginan dan berfokus hanya pada kepentingan keluarga (anak dan pasangan).
inilah yang saya sebut Penyangkalan Diri.
Buat saya, menyatukan 2 pribadi baik dengan pasangan ataupun Tuhan menuntut kedua hal diatas.
Happy wedding temans :d
Monday, November 12, 2007
- R@PUH -
Semua terasa begitu cepat berlalu dan aku tertinggal oleh waktuku sendiri.
Sesaat ku pikir jiwa & raga ini masih milik hari kemarin.
Sesaat pula kupikir hari kemarin belum lah selesai kutamati.
Betapa aku menikmati hari kemarin dan tak ingin berjalan melangkah menuju hari ini ataupun hari esok.
Tapi langkah ini terus bergulir dan tak bisa kuhentikan.
Setapak demi setapak ia bergerak ke depan.
Jika saja aku memiliki kekuatan para dewa-dewi, aku pasti berusaha untuk menghentikan langkah ini.
Langkah ini terlalu cepat… terlalu melelahkan… terlalu jauh… pikirku.
Ku ingin berhenti sejenak dan menikmati…
Ku ingin menikmati hembusan badai hari kemarin saja, karena ku tak pernah tau… apakah aku siap untuk menikmati badai hari ini ataupun esok.
Apakah aku punya pilihan untuk tidak berjalan ataupun berlari…
Apakah boleh kuhentikan langkahku ya Tuhan…
Aku tidak ingin maju ataupun mundur…
ku hanya ingin diam terpaku dalam tempatku.
Aku terlalu takut untuk maju karena semuanya terlihat gelap,
tetapi aku juga terlalu jenuh untuk mundur…
karena jalannya sudah kuhapal & kukuasai.
Aku hanya ingin diam disini… saat ini…
Tapi semakin aku berusaha untuk berhenti…
semakin berat langkah ini untuk kuhentikan.
Apapun yang terjadi aku harus terus maju…
Karena dalam system yang telah KAU buat, tidak ada langkah mundur.
Semua Kau buat hanya satu arah dan ini membuatku semakin rapuh.
Terkadang ku berpikir… mengapa Kau ciptakan aku dengan berbagai keinginan
tetapi tidak kau ciptakan system yang mampu mengakomodir semua keingingan ku itu.
Untuk semua kerapuhan ini, hanya 1 jawabmu “Pilihlah salah satu!”
Memilih… sesuatu yang berat untuk dilakukan, tapi sederhana untuk dikatakan.
Dalam hal ini, aku harus terus memilih untuk maju menuju hari ini dan hari esok.
Dan meyakini bahwa pilihan ku untuk terus berjuang akan membawa kebaikan bagiku.
(bul...teruslah berjuang...meskipun berat dan melelahkan...qta pasti bisa melalui ini semua)
Thursday, November 08, 2007
~ maafkanlah aku yang tak sempurna ~

detik waktu terus berjalan berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa tergores bagai lukisan
seribu mimpi berjuta sepi hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu yang terindah dalam hidup
meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu
maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya diriMu yang bertahta
detik waktu terus berlalu semua berakhir padaMu
thanks allot Opick, for remain me that my love is conditionally.
Monday, November 05, 2007
- One Step Closser -
One step closer... to the unknown journey
One step closer... to the final decision
One step closer... to a big Commitment
One step closer... to a big Forgiveness
One step closer... to a big Sacrifice
One step closer... to a Real Life
Why do i still scare about it?... Do i should feel scare?
Everyone around me said that i am with a right man. He loving me so much... i can feel it, but why i sometimes forget it?
Does love can help u through all horrible things in Marriage World?
Does love can bring u much happiness & desire?
I just don't want to regret for everything that i had choose.
The answer is... love can bring God stay in to your life and solve anykind of problem which comes by... i believe it, and must be believe on it.
-with much pray-
Sunday, October 07, 2007
Bersyukur Kepada Allah...
Masuk ke dalam angkot yang penuh sesak dengan penumpang, aku berusaha mencari tempat disela-sela kepadatan untuk duduk. Setelah merasa cukup nyaman dengan posisiku, baru aku melepas pandang pada orang-orang disekitarku. Kebiasaan yang kubawa sejak aku kuliah...observer... kalau bahasa kerennya.
Di depan pintu masuk angkot yang sempit, duduk seorang ibu tua kurus yang tampak lelah dan resah. Dengan air muka yang panik dan sedih dia bertanya pada wanita muda yang duduk tepat didepanku dan masuk lebih dulu ke dalam angkot itu daripada aku. "Mbak dibawah kakinya, disitu deket sepatu... ada nggak mbak?" tanya ibu itu. Wanita muda tadi hanya menggelengkan kepala kemudian menatap wajah ibu itu. "Diluar juga ga ada... tadi tuh saya taro di dalam kantong plastik ini!". Ibu itu kemudian mengeluarkan semua isi kantong plastiknya dan mencari benda yang hilang, dia genggam semua barang yang ada di dalam plastik itu dan kemudian membuang kantong plastik hitam lecek itu. Kulihat yang ada dalam genggamannya... 1 sachet nescafe cofeemix, 1 sachet energen, 2 sachet kecil kacang pilus garuda, dan... dan... tidak ada lagi...hanya itu.
Pecahlah kepanikan si ibu tua itu. "Dompet saya bener-bener ilang!! Duh GUSTI... padahal sudah saya masukin ke plastik ini...". Calo angkot, seorang laki-laki paruh baya yang terlihat sangar, yang sejak tadi berdiri diluar mobil dekat pintu masuk memandang ibu tua itu. "Kalo ga punya duit buat bayar angkot... bilang aja bu!! ga usah pake belaga dompetnya ilang!!" teriak si calo itu. "Massya Alloh bang, tadi tuh saya udah ngeluarin duit untuk bayar angkot... ini ada dua ribu. Tapi dompet saya ilang, mungkin jatuh..." suara si ibu tua itu mengiba. "Udah deh, ga usah pura-pura. Turun dimana sich?" "Ya Alloh bang, dompet saya beneran ilang...Demi Tuhan bang." Bukan bentuk simpati yang diberikan si calo itu, tetapi malah hinaan yang lebih keji, "Pir, si ibu yang ini ga bisa bayar tuh, ga ada uangnnya... udah ntar turunin aja dimana kek!"
Hah... Jakarta... inikah wajah asli dari kehidupan jakarta. Ataukah memang saat ini, wajah-wajah jenis ini semakin kental melekat pada umat manusia???
Aku baru menyadari keadaan yang terjadi dalam angkot itu. Aku baru menyadari kenapa raut wajah si ibu begitu terlihat resah... dan kenapa semua penumpang di angkot memandang dalam pada ibu tua itu. Tetapi hanya berhenti pada memandang... dan tidak berbuat apa-apa.
Ku sentuh bahu si ibu dan ku katakan "Ibu tenang aja... nanti ibu turun sama saya ya!" Saat kukatakan itu, uang yang ada disakuku hanya tinggal 1 lembar pecahan dua puluh ribu, 2 lembar pecahan seribu dan 2 keping lima ratusan logam. Ingin rasanya membantu ibu itu, tapi aku sedang menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan dengan keterbatasan uang yang ada di sakuku. Perjalanan pulangku masih panjang... dan uang disakuku adalah jumlah yang pas untuk mengantarku pulang. Jika kuberikan pada ibu ini, maka aku akan kekurangan dan harus mengambil di ATM. Terpikir olehku, seandainya aku tidak berfoya-foya di mall sebelumnya dan di dompetku masih ada selembar uang lima puluh ribu, ingin aku memberikan uang itu padanya. Tapi apa daya... aku kehabisan uang cash dan lupa untuk mengambil di ATM. Sempat terlintas untuk mengajaknya turun bersamaku untuk mengambil uang di ATM, tapi kurasa itu terlalu beresiko.
Saat sedang berpikir tentang bentuk bantuan yang sebaiknya aku berikan... kulihat ibu itu, yang sedari tadi terlihat cukup tegar, membuang wajah menghindariku dan menangis... menangis... menangis dalam bisu... aku yang sejak awal memperhatikannya melihat hal itu, tapi yang lain tidak. Rupanya ibu tua itu sudah tidak bisa menahan ketegarannya dan akhirnya menangis dalam bisu... tangisan yang memilukan bagi yang melihat. Tangisan itu yang sampai saat ini belum bisa aku lupakan. Aku tidak bisa berpikir lebih lama lagi... di depan rumah sakit Graha Medika aku turun, membayar ongkos tiga ribu dengan uang terakhirku, dan memberikan uang duapuluh ribu ku pada ibu itu. Si ibu sempat menolak dengan alasan, dia masih pegang dua ribu... tapi aku memaksa. Si ibu berterimakasih dan aku turun dari angkot itu.... semoga selamat sampai rumah bu... dan semoga uang itu cukup untuk ongkos pulang.
Aku turun dan menangis dalam hati... menangis keras sekali... sama seperti yang ibu tua itu lakukan. Tapi bukan karena aku kehilangan dompetku, atau aku kehabisan ongkos pulang... tapi aku menangis karena ternyata aku begitu amat buruk hati. Dihari-hari sebelumnya aku selalu lupa untuk bersyukur terhadap hal-hal yang kumiliki... aku enggan berterimkasih atas segala kesehatan & kecukupan yang ada padaku. Tamparan dari Tuhan kali ini sungguh membuatku melihat bahwa... AKU WAJIB BERSYUKUR!
- Thanks God for remain me with a beautiful way -