biarkan aku bercerita tentang kesetiaan yang aku pahami.
aku terlahir dari rahim seorang wanita jawa sederhana yang tidak berpendidikan tinggi. bukan karena tidak mau, tetapi kesempatan tidak memberinya ruang untuk itu. ayahnya hanyalah seorang petani penggarap di sebuah desa terpencil yang karena kegigihannya akhirnya mampu untuk membeli sebidang tanah garap yang digunakan untuk menafkahi keluarganya.
dibandingkan dengan teman-temannya, ibu dipandang cukup memiliki pendidikan padahal hanya sekolah menengah pertama. kesempatan beasiswa ke tingkat selanjutnya terpaksa pupus karena kemiskinan. mimpi besarnya untuk maju dan berkembang membawanya merantau ke Jakarta bertarung dengan nasibnya. "Hidup itu pilihan" itulah yang mendorongnya untuk melawan ketakutannya dan mempertaruhkan peruntungannya di Jakarta.
sadar bahwa pendidikannya formalnya tidak tinggi, ibuku tidak pernah malu dan ragu untuk mempelajari pendidikan informal keputrian yang akhirnya justru membuatnya dikenal orang.
sama halnya dengan ibuku, bapakku juga seorang pembelajar. selepas menyelesaikan sekolah pendidikan guru, dan tak mampu membiayai kuliahnya ia meminta restu kedua orangtuanya untuk menantang masa depannya di Jakarta. bermodalkan ijasah sederhana itu, bapakku mengetuk setiap kesempatan yang ada di Jakarta untuk memberinya ruang menjadi manusia yang berhasil menggapai mimpinya. tapi Jakarta bukanlah kota yang murah hati untuk memberikan sejuta kesempatan pada laki-laki muda dari desa itu. mulai dengan menjadi pekerja fisik harian sampai dengan akhirnya menjadi orang nomor 1 di organisasi pendidikannya ia lakukan tanpa kata lelah. bapakku mencintai semua hal yang berhubungan dengan organisasi dan sosial. untuk bapak, menjadi bagian dari kelompok amatlah menyenangkan. banyak orang mengasihi bapak karena kharisma dalam kesederhanaanya. kelak aku terkejut dengan jumlah orang yang mengantarnya ke peristirahan terakhirnya.. saat itulah aku tau bahwa bapakku dicintai banyak orang.
jakarta tidak hanya memberi bapak dan ibuku kesempatan, tetapi juga memberikan mereka sebuah rasa baru yang tidak palsu... cinta...
setelah melalui perjuangan cinta dan kebersamaan yang tidak mudah, mereka akhirnya menikah di depan altar. mengucap janji setia untuk saling menyayangi dan meminta kemurahan Tuhan untuk selalu membaharui rasa itu.
hidup mereka sulit, kami pernah mendengarnya. hidup kami tidak mudah, kami merasakannya.
bapak, ibu dan kami (aku dan kakakku) besar dengan banyak perjuangan. perjuangan yang banyak dicontohkan oleh kedua orang tua kami. dan perjuangan itulah yang kemudian membuat kami amat mengasihi mereka.
saat kami besar, aku ingat bahwa mimpi bapakku tidak pernah padam. mimpi untuk menjadi seorang sarjana di dunia pendidikan. bermodalkan tekad yang besar dan dorongan dari ibu, mereka bekerja sama untuk mewujudkan mimpi itu. sekali lagi, dengan kesederhanaan dan kesahajaan mereka, kakakku dan aku pun dapat menikmati pendidikan tinggi seperti ayahku. saat itu hanya ibuku yang tidak memiliki titel sarjana dirumah, tapi itu bukan berarti bahwa ia kehilangan semangat untuk mengejar mimpinya. ibu tidak kehilangan mimpinya, ia hanya merubah wujud mimpinya menjadi "penasehat sarjana". kenapa? karena walaupun hanya ia yang tidak sarjana, tetapi ia selalu menjadi orang pertama yang kami mintai nasihat dan petunjuk dalam segala hal.. hebat kan ^^
bapak dan ibuku saling menjaga dan menyayangi. mereka tidak bisa dipisahkan bagaikan panah dan busur. semasa hidupnya, mereka selalu melakukan aktivitas sosial bersama. kalau bapak menjadi ketua lingkungan, maka ibu menjadi ketua WK (a.k.a wanita katholik). kalau bapak menjadi ketua RT, maka ibu menjadi ketua PKK. sungguh lucu kalau di ingat. namun diatas segala kesibukan mereka, kami anak-anaknya tetap yang utama.
ketika akhirnya ibu harus dipisahkan dari bapak karena sebuah kecelakaan tragis merenggutnya (18 agustus 2003), aku melihat bahwa separuh jiwanya terbang bersama kekasih hatinya itu. ibu menangis tanpa air mata. ibu luluh lantak, terhenyak, dan tersungkur tapi tidak menampakkannya. kami tau ibu terluka, kami tau ibu berduka, dan kami tau duka itu tidak pernah hilang oleh hiburan-hiburan kami. tapi ibu tegar dan tetap berjuang untuk mengantar kami anak-anaknya sampai menikah karena itu janji ibu pada bapakku di saat terakhirnya.
dua tahun yang lalu, timbunan duka yang tertumpuk 6 tahun lamanya telah berubah menjadi racun ganas dan berbahaya bernama 'kanker' yang terdiagnosa tepat 1 bulan setelah kelahiran putraku. untuk kesekian kalinya ibu harus berjuang dan berjuang dalam kehidupannya. disaat sakitnya, jarang sekali ibuku mengeluh padahal kami tau betapa sakit tubuhnya dan betapa tertekan jiwanya. aku dan kakak punya keluarga yang cukup menyita waktu kami untuk memberikan perhatian penuh pada ibu. kadang ibu harus berjuang sendirian, kadang kami tidak cukup peka terhadap perasaan dan kebutuhannya tapi beliau amat mengerti dan tidak menuntut.
ada sebuah kalimat yang sempat diucapkan oleh ibuku sesaat sebelum dirinya koma dan akhirnya pergi (29 april 2011), "aku tidak akan berpaling". kalimat ini merupakan tanggapan dari doa tanteku yang meminta agar Tuhan memberikan kekuatan iman untuk tetap setia dan berharap padaNYA disaat sakit.
dari semua pengalaman hidupku, aku belajar dari melihat, mendengar dan merasakan bahwa kesetiaan dan kepasrahan telah di contohkan kedua orang tuaku.
bapak dan ibu semasa hidupnya telah mengajarkan kami tentang kesetian. kesetiaan terhadap pasangan, terhadap peran masing-masing, dan terhadap iman.
aku berharap, kelak aku mampu memberikan contoh dan teladan kesetiaan kepada putraku.
*untuk bapak dan ibu disurga*
thanks to wisnu untuk blognya yg menginspirasi saya untuk kembali menulis di blog ini.