Sunday, October 07, 2007

Bersyukur Kepada Allah...

Malam itu, kira-kira jam sembilan malam, aku memutuskan untuk pulang naik angkot. Dengan pertimbangan agar bisa berhemat dan menabung karena aku merasa selama ini terlalu banyak menghambur-hamburkan uangku untuk hal-hal yang kurang bermanfaat... setidaknya untuk orang lain.

Masuk ke dalam angkot yang penuh sesak dengan penumpang, aku berusaha mencari tempat disela-sela kepadatan untuk duduk. Setelah merasa cukup nyaman dengan posisiku, baru aku melepas pandang pada orang-orang disekitarku. Kebiasaan yang kubawa sejak aku kuliah...observer... kalau bahasa kerennya.

Di depan pintu masuk angkot yang sempit, duduk seorang ibu tua kurus yang tampak lelah dan resah. Dengan air muka yang panik dan sedih dia bertanya pada wanita muda yang duduk tepat didepanku dan masuk lebih dulu ke dalam angkot itu daripada aku. "Mbak dibawah kakinya, disitu deket sepatu... ada nggak mbak?" tanya ibu itu. Wanita muda tadi hanya menggelengkan kepala kemudian menatap wajah ibu itu. "Diluar juga ga ada... tadi tuh saya taro di dalam kantong plastik ini!". Ibu itu kemudian mengeluarkan semua isi kantong plastiknya dan mencari benda yang hilang, dia genggam semua barang yang ada di dalam plastik itu dan kemudian membuang kantong plastik hitam lecek itu. Kulihat yang ada dalam genggamannya... 1 sachet nescafe cofeemix, 1 sachet energen, 2 sachet kecil kacang pilus garuda, dan... dan... tidak ada lagi...hanya itu.

Pecahlah kepanikan si ibu tua itu. "Dompet saya bener-bener ilang!! Duh GUSTI... padahal sudah saya masukin ke plastik ini...". Calo angkot, seorang laki-laki paruh baya yang terlihat sangar, yang sejak tadi berdiri diluar mobil dekat pintu masuk memandang ibu tua itu. "Kalo ga punya duit buat bayar angkot... bilang aja bu!! ga usah pake belaga dompetnya ilang!!" teriak si calo itu. "Massya Alloh bang, tadi tuh saya udah ngeluarin duit untuk bayar angkot... ini ada dua ribu. Tapi dompet saya ilang, mungkin jatuh..." suara si ibu tua itu mengiba. "Udah deh, ga usah pura-pura. Turun dimana sich?" "Ya Alloh bang, dompet saya beneran ilang...Demi Tuhan bang." Bukan bentuk simpati yang diberikan si calo itu, tetapi malah hinaan yang lebih keji, "Pir, si ibu yang ini ga bisa bayar tuh, ga ada uangnnya... udah ntar turunin aja dimana kek!"

Hah... Jakarta... inikah wajah asli dari kehidupan jakarta. Ataukah memang saat ini, wajah-wajah jenis ini semakin kental melekat pada umat manusia???

Aku baru menyadari keadaan yang terjadi dalam angkot itu. Aku baru menyadari kenapa raut wajah si ibu begitu terlihat resah... dan kenapa semua penumpang di angkot memandang dalam pada ibu tua itu. Tetapi hanya berhenti pada memandang... dan tidak berbuat apa-apa.

Ku sentuh bahu si ibu dan ku katakan "Ibu tenang aja... nanti ibu turun sama saya ya!" Saat kukatakan itu, uang yang ada disakuku hanya tinggal 1 lembar pecahan dua puluh ribu, 2 lembar pecahan seribu dan 2 keping lima ratusan logam. Ingin rasanya membantu ibu itu, tapi aku sedang menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan dengan keterbatasan uang yang ada di sakuku. Perjalanan pulangku masih panjang... dan uang disakuku adalah jumlah yang pas untuk mengantarku pulang. Jika kuberikan pada ibu ini, maka aku akan kekurangan dan harus mengambil di ATM. Terpikir olehku, seandainya aku tidak berfoya-foya di mall sebelumnya dan di dompetku masih ada selembar uang lima puluh ribu, ingin aku memberikan uang itu padanya. Tapi apa daya... aku kehabisan uang cash dan lupa untuk mengambil di ATM. Sempat terlintas untuk mengajaknya turun bersamaku untuk mengambil uang di ATM, tapi kurasa itu terlalu beresiko.

Saat sedang berpikir tentang bentuk bantuan yang sebaiknya aku berikan... kulihat ibu itu, yang sedari tadi terlihat cukup tegar, membuang wajah menghindariku dan menangis... menangis... menangis dalam bisu... aku yang sejak awal memperhatikannya melihat hal itu, tapi yang lain tidak. Rupanya ibu tua itu sudah tidak bisa menahan ketegarannya dan akhirnya menangis dalam bisu... tangisan yang memilukan bagi yang melihat. Tangisan itu yang sampai saat ini belum bisa aku lupakan. Aku tidak bisa berpikir lebih lama lagi... di depan rumah sakit Graha Medika aku turun, membayar ongkos tiga ribu dengan uang terakhirku, dan memberikan uang duapuluh ribu ku pada ibu itu. Si ibu sempat menolak dengan alasan, dia masih pegang dua ribu... tapi aku memaksa. Si ibu berterimakasih dan aku turun dari angkot itu.... semoga selamat sampai rumah bu... dan semoga uang itu cukup untuk ongkos pulang.

Aku turun dan menangis dalam hati... menangis keras sekali... sama seperti yang ibu tua itu lakukan. Tapi bukan karena aku kehilangan dompetku, atau aku kehabisan ongkos pulang... tapi aku menangis karena ternyata aku begitu amat buruk hati. Dihari-hari sebelumnya aku selalu lupa untuk bersyukur terhadap hal-hal yang kumiliki... aku enggan berterimkasih atas segala kesehatan & kecukupan yang ada padaku. Tamparan dari Tuhan kali ini sungguh membuatku melihat bahwa... AKU WAJIB BERSYUKUR!

- Thanks God for remain me with a beautiful way -